Negeri 5 Menara

Judul : Negeri 5 Menara

Pengarang : A. Fuadi

Halaman : xiii+416 halaman

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama


Awan yang berarak, menampakkan bentuk yang berbeda dimata enam orang anak manusia. Dalam gambaran di kepala mereka masing-masing, tergambar benua impian mereka yang mereka titipkan di awan. Ada mantera ajaib, man jadda wa jadda, yang menjaga impian-impian mereka.


Alif adalah anak Minang yang merantau ke Jawa. Berbekal sedikit informasi yang dituliskan pamannya lewat surat, dan keinginan sang ibu yang menginginkan Alif menjadi seperti Buya Hamka (walau Alif sebenarnya ingin seperti Habibie), akhirnya Alif memutuskan menuntut ilmu di Pondok Madani di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur.

Berawal dari hukuman yang harus diterima di hari pertama resmi menjadi santri Pondok Madani, selanjutnya kita sebut PM, Alif berkawan akrab dengan lima orang kawan hukumannya itu. Adalah Raja, si anak Medan yang cerdas, Baso santri dari Gowa, yang bercita-cita menjadi hafidz, Atang, anak sunda yang keranjingan teater, Dulmajid, santri dari Madura, dan Said, pemimpin informal mereka.

Keenam sahabat ini menamakan dirinya Sahibul Menara. Karena kebiasaan mereka berkumpul di bawah menara masjid PM setiap menjelang magrib. Di bawah menara itulah mereka membicarakan mimpi-mimpi mereka.

Walaupun merasa betah mondok di PM, namun Alif tak benar-benar betah. Cita-citanya menjadi seperti Habibie masih sering menghantuinya, apalagi surat-surat yang dikirimkan Radai membuat Alif bimbang dengan masa depannya. Nah, daripada saya tulis semua mendingan di baca sendiri saja ya? Hehehe…

***

Awalnya saya tidak begitu tertarik dengan novel ini, hanya karena bahan bacaan saya sudah habis dan pengen banget baca, jadilah lewat sebuah pertukaran dengan seorang kawan buku ini sampai di tangan saya. Ternyata, ketidaktertarikan saya salah. Novel ini begitu menarik. Dan itu sudah dimulai dengan covernya, ada lima buah menara. Ada monas, bigben di London, monumen Washington, dan dua menara yang lebih menyerupai masjid, entah di mana. Dan, ada lagi yang menarik selain gambar menara, yaitu pemilihan angka 5-nya. Unik, dan seperti menyimbolkan sesuatu.

Kemudian ketertarikan saya berlanjut pada mantra sakti yang jadi pengikat di novel ini, man jadda wajada, siapa bersungguh-sungguh akan sukses. Itulah mantra yang membulatkan tekad Alif untuk bertahan di PM. Kalimat sederhana namun punya kekuatan yang luar biasa.

Novel ini sangat menarik. Perspektif pondok pesantren yang benar-benar berbeda dari yang selama ini saya kenal. Tidak mengherankan sebenarnya, karena novel ini sendiri terinspirasi oleh kisah penulis sewaktu masih nyantri di Pondok Modern Gontor. Saya jadi tahu seperti apa pola pendidikan di Gontor, meski saya sendiri pernah juga berada di Pondok (walaupun hanya sebentar) namun terasa sekali perbedaan suasana yang ada. Dulu, imtihan di ponpes saya seolah petaka bagi para santri, tapi di PM malah disambut bak pesta besar. Tidak terbayangkan dalam benak saya bagaimana jika mengigau dalam bahasa Inggris, mengumpat dalam bahasa Arab, berbahasa sehari-hari dengan bahasa Arab dan Inggris-dan “hanya” dalam waktu 3 bulan harus mahir.

Kenikmatan membaca novel ini sedikit terganggu dengan banyaknya kesalahan ketik di beberapa bagian. Walaupun sekilas mirip dengan Laskar Pelangi, tapi novel ini mempunyai kekhasan sendiri, yaitu mantra sakti man jadda wajada.

Oh iya, lewat novel ini penulisnya, Ahmad Fuadi, meniatkan untuk menyisihkan setengah dari royalti untuk merintis komunitas Menara. Sebuah organisasi sosial yang berbasis volunteer yang menyediakan sekolah, perpustakaan, rumah sakit dan dapur umum untuk yang tidak mampu dan gratis.

***

Membaca novel ini serasa benar-benar bernostalgia ketika berada di pondok. Walaupun saya mondok hanya sebentar, kurang dari dua tahun, dan belum banyak yang saya dapat, namun suasana kehidupan pondok masih kuat membekas.

Awalnya saya menolak untuk masuk pondok, tapi setelah orang tua saya keukeuh membujuk, akhirnya saya melunak. Dalam bayangan saya sudah tergambar yang tidak-tidak yang bakal terjadi jika di pondok. Kebetulan pondok tersebut letaknya berdekatan dengan SMA tempat saya sekolah. Pagi sekolah, sisanya belajar di pondok.

Walaupun pelajaran agama yang saya dapat di pondok terbilang sedikit, namun ada pelajaran lain yang saya dapat, kebersamaan. Semua kegiatan dilakukan bersama-sama, kecuali mandi. Salah satu yang paling berkesan adalah saat makan. Masing-masing orang yang akan ikut makan harus urunan satu gelas beras dan uang yang akan digunakan untuk belanja. Setelah selesai masak, barulah semua masakan tadi di taruh dalam satu loyang besar dan disitulah kita makan bersama. Anak-anak pondok menyebut acara makan itu ro’an. Tradisi ini kemudian saya temukan lagi di Indikator.

Saat penulis novel ini menuturkan minum kopi satu ember, saya juga tak kaget. Lha wong pas di pondok, saya juga melakukannya, walau hanya pada saat-saat tertentu saja, misalnya selesai imtihan. Seringnya kita ngopi dengan satu cerek plastik dan satu gelas, kemudian kita nikmati bersama sambil ngobrol ngalor-ngidul.

Sebenarnya saya betah berada di pondok, karena saat itu saya sudah kelas tiga, orang tua menghendaki saya mengundurkan diri dari pondok untuk berkonsentrasi menyiapkan ujian akhir. Akhirnya saya mengundurkan diri, walau tak sepenuhnya, sesekali saya masih ngaji di pondok. Sampai akhirnya benar-benar keluar.

***

Kastil

Seorang gubernur mengeluh. Saya kebetulan mendengarnya. Maka tahulah saya ada yang ganjil yang jadi rutin dalam pemerintahan kota yang dipimpinnya, seakan-akan sang gubernur dan administrasinya muncul dari novel Kafka, seakan-akan Kafka bukan hidup di Praha di awal abad ke-20 melainkan di Jakarta, mungkin sekitar Gambir, sejak empat dasawarsa ini.

Tapi cerita ini bukan buah imajinasi seorang sastrawan: pada suatu hari di tahun 1990-an gubernur itu memang mengirim surat dinas ke direktur kebun binatang di Ragunan. Berhari-hari ia tak menerima jawaban dari bawahannya itu. Kemudian baru ia ketahui, surat yang ditandatanganinya itu perlu waktu tiga bulan untuk keluar dari kantor gubernuran. Berminggu-minggu kertas itu diteruskan dari biro satu ke biro lain di dalam kantor yang sama, sebelum akhirnya dikirim ke alamat yang dimaksud.

Gubernur itu, seorang perwira tinggi angkatan darat yang lurus hati yang diberi jabatan itu baru satu tahun, bertanya seakan-akan pada dirinya sendiri: “Kantor macam apa ini?”

Seorang wali kota juga mengeluh. Atau mungkin lebih tepat terenyak. Ia seorang mantan pengusaha sukses yang dipilih dengan penuh harapan oleh rakyat di kota Jawa Tengah itu. Tapi pada hari pertama ia masuk kantor balai kota, ia lihat ratusan orang duduk di dalamnya: para pegawai. Sebagian besar baca koran. Sebagian lagi main catur. Bahkan ada seorang pegawai perempuan asyik merajang sayur.

Sang wali kota pun pulang ke rumahnya dan termangu di hari pertama masa jabatannya: “Kantor macam apa itu?”

Jawabannya sangat mengejutkan: itu adalah kantor yang biasa saja, Pak-kantor pemerintah. Itu adalah kantor di mana mesin yang disebut birokrasi hadir, nongkrong, seakan-akan untuk membatalkan tesis Max Weber dan mengukuhkan gambaran yang absurd dalam karya-karya fiktif Kafka-meskipun cerita birokrasi Indonesia tak sepenuhnya bisa dijelaskan dengan kemuraman Kafka.

Max Weber, kita ingat, mempertautkan birokrasi dengan keniscayaan dunia modern. Berbeda dari kaki tangan raja-raja di zaman lampau, yang bekerja berdasarkan perpanjangan kharisma Yang-Dipertuan-Agung, birokrasi merupakan alat sebuah otoritas yang bersifat “legal-rasional”. Dalam tesis Weber, birokrasi membawa dalam dirinya aturan dan hierarki yang jelas. Organisasi itu punya arah atau sasaran yang terfokus, dan ia dengan sadar bersifat impersonal. Seluruh bangunan itu punya rasionalitas yang mantap.

Tapi apa kiranya yang “rasional” di kantor sang gubernur dan sang wali kota?

Gubernur kita tak tahu, wali kota kita tak tahu, saya juga tak tahu. Tapi jangan-jangan inilah “rasionalitas” itu: birokrasi itu adalah sebuah agregat yang lahir dari argumen bahwa ia diperlukan. Birokrat, kata Hannah Arendt dengan sedikit mencemooh, adalah “the functionaries of necessity”. Dengan catatan: necessity itu, keperluan yang tak bisa dielakkan itu, pada awal dan akhirnya ditentukan oleh dinamika organisasi itu sendiri. Birokrasi tak perlu punya sasaran untuk dicapai. Mesin itu berjalan mandiri.

Di sinilah yang absurd berlangsung-sesuatu yang dibuat alegorinya oleh Kafka dalam cerita pendeknya yang termasyur, Di Koloni Hukuman.

Di pulau itu, seorang opsir menjelaskan kepada seorang pengunjung tentang proses eksekusi yang akan dijalani seorang terhukum. Ia akan diletakkan telungkup di bawah sebuah mesin yang bekerja seperti sehimpun jarum tato raksasa, mesin yang akan menusuk si terhukum dan dengan itu akan tertulis sebuah kalimat perintah di tubuhnya. Setelah 12 jam, si terhukum mati.

Yang menarik dari penceritaan Kafka adalah bahwa yang jadi fokus bukan si terhukum; orang ini Cuma diam saja, bahkan tak tahu atau peduli apa kesalahannya. Melalui sang Opsir, tokoh utama yang muncul adalah mesin yang ganjil, brutal, dan rumit itu. Ketika sang Opsir yang mengoperasikan mesin itu tahu penggunaannya tak akan diizinkan lagi, ia membiarkan dirinya jadi korban. Mesin ada, dan sebab itu harus didapatkan sasarannya.

Birokrasi juga menyatakan diri perlu, tapi kita tak tahu apa fungsinya ketika ia hadir, dalam jumlah berlebih dan tak bekerja untuk satu hasil. Dalam aturan yang berlaku, sang wali kota tak boleh memecat pegawainya-meskipun ia sanggup bekerja dengan 20% saja dari tenaga yang ada. Bahkan tiap tahun ia harus menerima 700 pegawai baru.

Memang harus ditambahkan di sini: berbeda dari mesin yang digambarkan Kafka, aparat pemerintahan di kantor-kantor negara tak tampak mengerikan. Bahkan mungkin alegori Di Koloni Hukuman tak tepat dipakai. Mereka yang duduk menganggur di kantor wali kota itu tak punya ciri-ciri mesin yang efektif. Jika kita harus memakai kiasan Kafka-mungkin satu-satunya novelis yang dengan imajinatif menggambarkan dunia modern yang harus menanggungkan organisasi-maka birokrasi kita lebih mirip sebuah kastil.

Dalam novel Das Schlob, (artinya “kastil” dan juga “gembok”), kita dipertemukan dengan sebuah konstruksi yang mendominasi lanskap desa. Kastil itu menguasai wilayah itu, tapi tak tampak siapa yang punya. Ketika K datang untuk menghadap, yang disebut hanya seorang administrator yang bernama Klamm (dalam bahasa Cek berarti “ilusi”) yang tak pernah bisa ditemuinya.

Kekuasaan itu tak jelas, tapi terasa, kadang-kadang muncul, melalui lapisan staf dan telepon yang berdering dan tak disahut. Birokrasi yang impersonal itu pada akhirnya tak menjawab dan tak jelas kepada siapa ia bertanggung jawab. Di balik bangunan besar itu, mungkin sebenarnya hanya ada khaos. Gubernur itu menyerah. Wali kota itu menyerah.



Goenawan Mohamad

Catatan Pinggir, Tempo edisi 12-18 Oktober 2009

Perahu Kertas

Judul : Perahu Kertas

Pengarang : Dewi Lestari/ Dee

Halaman : xii + 444 halaman

Harga : Rp 69. 000 (Gramedia), Rp. 58. 650 (Toga Mas)

Penerbit : Bentang Pustaka & Truedee Pustaka Sejati


Menghanyutlah perahu kertas, aliran sungai akan membawanya menyusuri riak-riak air, kadang tenang, kadang deras. Dibutuhkan keberuntungan untuk sebuah perahu kertas melewati tiap rintangan dalam perjalanan itu. Hingga pada suatu ketika sampailah dia pada muaranya, tempatnya berlabuh di akhir sebuah perjalanan panjang.

Seperti itulah pengalaman yang saya dapatkan setelah menyelesaikan karya terakhir dari Dewi Lestari tersebut. Kadang datar, kemudian oleng, hingga akhirnya kembali tegak. Novel ini terkesan filmis karena objek ceritanya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Tak seperti karya-karyanya terdahulu yang, menurut kawan-kawan saya, tergolong rumit. Saya sendiri baru membaca dua karya terakhir Dee, termasuk ini.

Secara umum, novel ini bercerita tentang kisah cinta antara dua tokoh utama dalam novel ini, Kugy dan Keenan. Dua sosok yang digambarkan Dee dengan kata unik dan ajaib. Kugy adalah keunikan itu, berantakan, pengkhayal, suka menulis dongeng dan bercita-cita menjadi penulis dongeng, sebuah cita-cita yang nggak banget. Sedangkan Keenan, cerdas, artistik, penuh kejutan, pelukis ajaib, dan bercita-cita menggantungkan hidupnya dengan menjadi pelukis.

Keduanya bertemu secara tidak sengaja, saling mengenal dan pada akhirnya saling mengagumi. Keduanya saling melengkapi dan mendukung impian, lengkap dengan bumbu-bumbu romansa sepanjang cerita adalah keasyikan tersendiri berlayar bersama perahu kertas.


***


Walaupun ini adalah karya dari Dee yang paling ringan, tidak akan menyesal membaca buku ini. Karena tetap sarat akan makna. Entah itu lewat cerita, ataupun lewat quotes yang dirangkai oleh si penulisnya. Quotes yang disajikan terbilang menarik, seperti ini contohnya:

Kenangan itu cuma hantu di sudut pikir. Selama kita cuma diam dan nggak berbuat apa-apa, selamanya dia tetap jadi hantu. Nggak akan pernah jadi kenyataan.

Untuk pembaca yang mudah teraduk emosinya, tak usah malu-malu jika ingin menangis. Hehehehe… Sekarang, saya mulai bingung mau nulis apalagi. Pastinya buku ini recommended. Well, selamat menyusuri riak-riak aliran Perahu Kertas. Sekarang sedang butuh bacaan lagi. Ada yang mau rekomendasi?
Renovasi
Setelah sekian lama saya nggak menengok blog ini, tempo hari saya menemukannya berantakan. Gambar-gambarnya pada ngilang, kadaluarsa. Kasihan juga, melihat blog ini tak terurus dan tak tak terawat. Akhirnya, daripada rusak sama sekali mending saya perbaiki.
Milih-milih, browsang-browsing nyari templet dapatlah ini. Udah deh, di pasang.
Sebenarnya, lebih dari sekadar renovasi, keinginan saya adalah untuk kembali mengaktifkan kegiatan tulis-menulis blog ini. Semoga keinginan itu tidak hanya sekedar keinginan, saya pengen ada bukti pastinya. Di mulai dari posting ini. Hehehehe...
Madakaripura Waterfall
Setelah mimpi ke Trowulan terwujudkan, maka perjalanan selanjutnya adalah air terjun Madakaripura. Di tempat inilah, dibawah air terjun Madakaripura, Gajah Mada bersemedi mendekatkan diri dengan Sang Pencipta dan, konon, hingga moksa.
Air terjun Madakaripura sendiri terletak di Desa Sapih, Kecamatan Lumbang, Kabupaten Probolinggo. Bersama Arif dan Mas Pandu, hari Minggu (28/06/09) kemarin, kami berangkat menuju Madakaripura dari Malang sekitar pukul 11. Motor kami pacu rata-rata dalam kecepatan 70 km/jam. Perjalanan menuju lokasi lumayan mengasyikan, dengan jalan aspal berkelok-kelok dan semakin menarik mendekati lokasi air terjun.
Kami sampai di Madakaripura kira-kira pukul 2, di depan pintu gerbang kami harus membayar uang masuk sebesar Rp. 2. 500/ kepala. Selembar uang sepuluh ribuan aku berikan, dan menerima pengembalian sebesar Rp. 2. 000. Lho? Ternyata tidak ada kembaliannya, ya sudah lah.

Setelah memarkir dua tunggangan kami, yang dikenai Rp. 1. 000/ motor, datanglah pemandu yang menawarkan jasa mengantar hingga ke air terjun. Sebenarnya kami tidak terlalu membutuhkan jasanya, tapi karena bapak, yang akhinya kutahu namanya Pak Siplin (55 th), itu gigih akhirnya kami pakai juga jasanya. Karena menurut beberapa referensi yang aku cari tarif sewa pemandu ini sebesar 30-50 ribu, maka kami mencoba menawar harga, tapi bapak itu tak hanya bilang “yah, terserah masnya saja..”. Satu masalah selesai pikirku, berarti dia mau dibayar berapa aja. Hehehe…
Perjalanan menuju air terjun kira-kira 2 km dari pintu masuk, menyeberangi sungai yang berbatu, menyusuri jalan setapak hingga air terjun. Bagi yang sering melakukan trekking mungkin tidak akan bermasalah, tapi bagi yang tak pernah ini akan menjadi perjalanan yang melelahkan. Aku memilih menikmati perjalanan (dan menemani mas Pandu yang sepertinya lumayan tersiksa. Hehehe…) dan menyerahkan pak Siplin pada Arif untuk mengajak berbincang.
Setelah melewati pos di bekas jembatan, yang menurut penuturan Pak Siplin hancur karena banjir bandang beberapa tahun lalu, sudah terlihat air terjun Madakaripura. Setelah menuruni sungai, kami mulai memasuki air terjun pertama yang menyerupai tirai. Beberapa orang mengingatkan derasnya air yang turun seperti hujan dengan menawarkan payung dan juga tas kresek agar barang bawaan tidak basah. Kami hiraukan tawarannya, karena ingin merasakan kenikmatan berhujan-hujan.
Mendekati air terjun, jalanan semakin sempit dan untuk sampai di air terjun utama kita harus menapaki batuan terjal dan licin. Air terjun utama ini menyerupai sumur, berada di bawahnya seakan kita berada di dasar sumur. Di tengah air terjun tersebut terdapat sebuah lubang, di situ dipercaya sebagai tempat Gajah Mada bersemedi. Cipratan air yang turun sangat deras, hingga menyebabkan kami tidak banyak mengabadikan keindahan air terjun ini.
Setelah puas berbasah-basahan, kami memutuskan kembali. Sebelum menyusuri jalan pulang, kami beristirahat sejenak untuk menimati kopi hangat dan gorengan bersama Pak Siplin. Sekalian untuk mengakrabkan diri dengan Pak Siplin, yang sedari tadi aku acuhkan, serta ibu pemilik warung. Dari mereka berdua aku mengetahui, bahwa awal dibukanya Madakaripura untuk umum adalah tahun 1981.
Setiap bulan-bulan tertentu di Madakaripura ini diadakan acara tayuban untuk keselamatan masyarakat sekitar. Ada cerita menarik mengapa dipilih acara tayub, karena dulu pernah pengelola dan masyarakat sekitar mengadakan acara dangdutan tapi rupanya penunggu Madakaripura tidak berkenan, maka datanglah banjir bandang. Sejak saat itu penduduk menggelar acara tayuban lengkap dengan ledre-nya.
Setelah ngobrol dan kopi pun habis kami melanjutkan perjalanan kembali. Untuk mengganti jasa pak Siplin kami menyerahkan uang Rp. 20. 000 dan kutawarkan sebatang rokok yang tersisa. Sekitar pukul 4 kami memutuskan pulang kembali ke Malang dan tawaran mas Pandu mengisi perut di Rawon Nguling awalnya bukan ide bagus, tapi setelah mas Pandu dengan “senang hati” bersedia membayari akhirnya jadi ide yang bagus. Hehehe… Ternyata, menurutku yang bukan ahli kuliner, rasanya biasa saja, tidak jauh berbeda seperti rawon-rawon kebanyakan, malah lebih enak rawon buatan ibu.
Sampai Malang jam menunjukkan pukul 7 malam, dan menyisakan kepuasan. Satu lagi jejak Majapahit kukunjungi, menyusul berikutnya beberapa tempat lagi.

Catatan:
Keindahan air terjun Madakaripura ternyata masih harus banyak dibenahi. Terlalu besarnya peran masyarakat dalam pengelolaan air terjun ini terasa mengganggu kenikmatan berwisata ke tempat ini. Sepertinya dinas terkait menyerahkan pengelolaan lokasi ini kepada penduduk sekitar. Mulai dari ticketing hingga guiding perlu dibenahi.
Ketika parkir, masing-masing kendaraan sudah dikenai biaya, ketika kami akan meninggalkan lokasi kami dimintai biaya tambahan untuk biaya cuci motor sebesar Rp. 3. 000/ motor. Nah lo, siapa coba yang minta di cucikan?
Kemudian juga untuk pemandu, tidak adanya standar besaran biaya yang jelas mengakibatkan pemandu seenaknya sendiri menetapkan harga. Rata-rata biaya yang diminta antara Rp. 20. 000 – Rp. 50. 000 untuk pengunjung lokal, dan Rp. 100. 000 untuk wisatawan asing. Tapi dilapangan kemarin, kami mendapati seorang bule dan dua orang teman lokalnya dimintai duit tambahan, setelah si bule menyerahkan Rp. 200. 000 kepada pemandu. Kemudian juga si wisatawan (yang katanya dari India) juga yang protes karena terlalu besarnya uang yang diminta. Jadi, sebaiknya ditetapkan berapa nominal yang harus di kenakan untuk jasa pemanduan tersebut, agar pengunjung dan pemandu saling diuntungkan.

Tips:
- Sebaiknya jangan menggunakan alas kaki dari kulit, lebih baik pakai sendal jepit atau tanpa alas kaki sekalian.
- Bawa juga tas plastik jika tidak ingin barang-barang bawaan basah.
- Untuk kenikmatan mengabadikan gambar sebaiknya bawa kamera SLR atau setidaknya lensa kamera terlindung dari air, karena cipratan air bisa mengganggu keindahan berfoto ria.
- Sebelum jalan, sebaiknya tanyakan dulu nominal yang diminta untuk jasa pemandu agar tidak kecele.
Jalan-jalan ke Trowulan, kenapa tidak?

Beberapa bulan yang lalu, tepatnya tanggal 8 Februari 2009, akhirnya tercapai keinginan lama saya ke situs Majapahit di Trowulan, Mojokerto. Perjalanan ini saya lakukan bersama seorang teman, yang begitu penasaran akan kontroversi pembangunan Pusat Informasi Majapahit. Menggunakan sepeda motor, perjalanan dari Malang-Trowulan memakan waktu kurang lebih 3 jam, dengan kecepatan rata-rata 80 km/jam.

Seperti diketahui, Trowulan diyakini sebagai ibu kota Kerajaan Majapahit (1293-1521). Di kawasan tersebut, banyak sekali sisa-sisa bangunan yang menunjukkan kejayaan kerajaan Majapahit. Diantaranya adalah kolam segaran yang berukuran besar, yang menurut berbagai sumber berukuran kurang lebih 6,5 hektare. Kemudian ada juga bangunan candi, baik Hindu maupun Budha. Seperti Candi Brahu, Candi Bajang Ratu, Candi Tikus, dan Candi Gentong. Di situs Trowulan juga ditemukan situs pemukiman penduduk, dan lantai segienam.


Kolam Segaran

Begitu masuk kompleks situs Trowulan, kami langsung disambut oleh pemandangan sebuah kolam berukuran raksasa. Kira-kira seluas dua lapangan sepakbola. Menurut cerita turun temurun dari masyarakat sekitar, di kolam ini dulu tempat perjamuan tamu dari luar negeri. Setelah perjamuan usai, piring dan peralatan makan yang digunakan (yang terbuat dari emas) di buang ke kolam. Hal ini untuk menunjukkan kepada para tamu bahwa Majapahit begitu kaya.

Versi lain menerangkan bahwa kolam segaran adalah tempat latihan militer dan waduk. Keterangan ini dibuktikan dengan adanya pintu air di sisi luar kolam dan luas kolam itu sendiri.


Pendopo Agung

Perjalanan kami lanjutkan ke lokasi yang diduga dulunya adalah tempat berdirinya Pendopo Agung. Bangunan yang ada saat ini adalah hasil dari rekonstruksi yang dilakukan oleh Kodam V Brawijaya.

Di tempat yang diduga Pendopo Agung tersebut kita bisa melihat relief-relief yang menggambarkan bagaimana kebesaran kerajaan Majapahit, disamping itu ada pula sebuah relief yang menggambarkan saat Mahapatih Gajah Mada menggucapkan Sumpah Palapa. Begini kurang lebih bunyi dari sumpah yang begitu termasyur itu:

Sira Gajah Madapatih Amangkubhumi tan ayun amuktia palapa, sira Gajah Mada: "Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tañjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa".

Terjemahannya kurang lebih berbunyi:

Saya Gajah Mada Patih Amangkubumi tidak ingin melepaskan puasa. Saya Gajah Mada, "Jika telah mengalahkan Nusantara, saya (baru akan) melepaskan puasa. Jika mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru akan) melepaskan puasa".

Di depan pintu gerbang, terdapat patung raja pertama Majapahit, Raden Wijaya saat di wisuda menjadi raja. Di belakang pendopo, terdapat pemakaman tua. Kemungkinan pemakaman tersebut adalah makam para abdi kerajaan yang telah memeluk agama Islam


Pusat Informasi Majapahit (PIM)

Setelah berkeliling ke Pendopo Agung, ternyata ada satu lokasi yang tadi terlewatkan. Tempat itu adalah Pusat Informasi Majapahit (PIM), museum yang menyimpan peninggalan-peninggalan bersejarah peninggalan kerajaan Majapahit. Seperti arca, prasasti, relief, dan komponen candi.

Di sini diperlihatkan pula Surya Majapahit. Surya Majapahit merupakan salah satu ciri khas peninggalan kerajaan Majapahit dengan bentuk lingkaran sebagai perwujudan pancaran sinar matahari. Pada bagian dalamnya terdapat relief sembilan dewa penjaga mata angin yang disebut "Dewata Nawa Sanga", sebagai dewa utama yang berada di lingkaran utama. Terdiri Siwa (Pusat), Iswara (Timur), Mahadewa (Barat), Wisnu (Utara), Brahma (Selatan), Sambhu (Timur Laut), Rudra (Barat Daya), Mahesora (Tenggara), dan Sangkara (Barat Laut). Sedangkan dewa minor berada pada sinar yang memancar. Terdiri dari Indra (Timur), Agni (Tenggara), Yama (Selatan), Nrrti (Barat Daya), Baruna (Barat), Bayu (Barat Laut), Kuwera (Utara), dan Isana (Timur Laut).

Koleksi yang dimiliki PIM bisa dikatakan lengkap. Museum ini tidak hanya menyimpan koleksi peninggalan kerajaan Majapahit saja, tapi juga hasil kebudayaan masa lampau. Seperti logam, fosil, dan peralatan berburu.

Oh iya, di PIM juga terdapat situs rumah tinggal. Kami pun melihat lokasi pembangunan Majapahit Park yang sempat menjadi pro-kontra, hanya sayangnya kami tak bisa masuk kesana.


Candi Tikus

Perjalanan kami lanjutkan ke Candi Tikus. Candi ini secara administratif terletak di Desa Temon, Trowulan,

Mojokerto. Dinamakan Candi Tikus, karena dulunya saat candi ini di eskavasi banyak sekali tikus yang keluar dari bangunan tersebut. Dinding Candi Tikus dibuat berteras untuk menahan tanah sekitarnya. Pada dinding bagian bawah terdapat pancuran berjumlah 19 buah. Bangunan induk candi terdiri atas kaki, tubuh, dan atap. Di atas tubuh candi terdapat empat buah menara.

Bangunan Candi Tikus menggambarkan replika gunung mahameru. Gunung mahameru merupakan gunung suci yang dianggap sebagai pusat alam semesta yang mempunyai suatu landasan kosmogoni yaitu kepercayaan harus adanya suatu keserasian antara dunia dunia (mikrokosmos) dan alam semesta (makrokosmos).

Di samping itu, sangat mungkin Candi Tikus merupakan sebuah petirtaan yang disucikan oleh pemeluk Hindu dan Budha. Mengingat bahwa air adalah salah satu unsur alam yang di keramatkan oleh pemeluk Hindu dan Budha.


Candi Bajang Ratu

Candi Bajang Ratu, dikenal juga dengan nama Gapura Bajang Ratu, candi/ gapura ini berfungsi sebagai pintu masuk bagi bangunan suci untuk memperingati wafatnya Jayanegara. Bajang Ratu sendiri memiliki arti Raja yang masih kecil, bajang berarti kecil dalam bahasa jawa. Hal ini merujuk pada Jayanegara yang ketika dinobatkan menjadi raja saat masih remaja.

Sayangnya, karena usianya yang sudah tua candi ini harus ditopang oleh besi untuk menjaga agar bangunan ini tidak runtuh.


Situs Lantai Segi Enam

Situs Lantai segi enam adalah sebuah sisa dari situs rumah tinggal. Keunikan yang kami temukan di situs ini adalah telah digunakannya lantai bersegi enam, yang sering kita kenal dengan nama paving.

Menurut penuturan penjaga, Situs lantai segi enam pertama kali di ekskavasi sekitar akhir tahun 80-an. Penggalian di lakukan oleh tim Arkeologi dari UGM.


Candi Gentong

Bangunan candi yang kami datangi kali ini berbeda sekali dengan beberapa candi yang kami kunjungi sebelumnya. Tak ada bentuk yang menggambarkan bangunan sebuah candi. Ketika kami ke sana, langsung disuguhi dua komplek gundukan tanah yang tertutup atap. Setelah berbincang-bincang dengan mas Ghofur, penjaga Candi Gentong, pertanyaan-pertanyaan dibenak kami akhirnya mendapat jawaban.

Berdasarkan keterangan mas Ghofur, kami mengetahui bahwa candi ini belum selesai di ekskavasi dan untuk jangka waktu yang belum ditentukan ekskavasi dihentikan, karena minimnya data yang diperoleh. Candi ini tertutup atap untuk menghindari kerusakan fisik situs tersebut akibat gejala alam.

Dinamakan Candi Gentong karena dulunya di candi ini ditemukan gentong-gentong pada saat penggalian. Gentong-gentong tersebut ternyata adalah stupika. Hal ini menguatkan keyakinan bahwa Candi Gentong berciri Budha.


Candi Brahu

Candi ini terletak di Desa Bejijong, Trowulan. Bisa jadi Candi Brahu adalah candi Budha. Hal ini di bisa dilihat dari bentuknya yang gembung sebagaimana biasanya candi-candi berciri khas Budha. Di samping itu, puncak menara Candi Brahu diperkirakan adalah stupa karena terdapat sisa hiasan berbentuk lingkaran.

Candi ini berfungsi sebagai tempat penyimpanan abu raja-raja Majapahit, dari Brawijaya I hingga Brawijaya III. Setelah dibakar abu sisa pembakaran di simpan dalam candi tersebut.

Karena hari sudah beranjak sore, akhirnya kami harus menyudahi perjalanan ini. Walaupun sebenarnya masih banyak lokasi yang belum sempat kami kunjungi. Lokasi-lokasi yang tertinggal tersebut seperti Candi Ronggo Lawe, Makam Troloyo, Sumur Upas, dan beberapa lokasi lain. Mungkin lain kali kunjungan kembali bisa di agendakan. Semoga...