By Eko NP Andi | Friday, April 16, 2010
Posted in: | 2 komentar

Persis

Senin, 22 Maret 2010

Pendeta Hale datang jauh-jauh ke Kota Salem di akhir abad ke-17 itu dengan keyakinan ia akan menghalau kejahatan dari muka bumi. Ia diundang ke kota di Teluk Massachussets itu untuk memeriksa satu kasus santet: ada seorang anak gadis yang pingsan terjatuh di hutan, dan ada seorang budak hitam dari Barbados yang dituduh jadi dukun setan yang menyebarkan bid'ah dan malapetaka.

Dalam lakon The Crucible Arthur Miller ini Pendeta Hale tampil sebagai seorang yang ingin mendekati persoalan dengan logis dan ilmiah. Ia berbeda dari orang-orang udik itu. Ia tak ingin terlibat dalam takhyahul. "We cannot look to superstition in this. The Devil is precise".

Tapi ia tak merasa, ada kontradiksi dalam kata-kata itu. Ia menolak takhayul, namun baginya Setan bukanlah sesuatu yang ambigu. Setan itu hadir secara pasti dan akurat. Hale membedakan dengan jelas antara keyakinannya yang berdasarkan Alkitab dan takhayul; baginya, iman dapat ditunjang dengan sikap ilmiah. Tapi pada saat yang sama ia tak menggunakan dasar paling mula dari sikap ilmiah. Ia tak hendak mempertanyakan dan menguji tiap hipotesa; ia tak bertekad mendapatkan pembuktian secara empiris. Hale, yang hidup di zaman sebelum empirisisme John Locke terdengar, datang ke kota udik itu dengan buku-buku tebal. "Ilmiah" baginya rasional, tapi itu saja: tak bertolak dari pengamatan, tak berangkat dari pengalaman dalam ruang dan waktu.

Maka "the Devil is precise", kata Hale. Demikian pula keyakinan tentang Tuhan. Itu sebabnya ia menganggap theologi sebagai sebuah "benteng" yang tak bisa retak, biar pun kecil. Ia tak memberi kemungkinan ada seorang, justru dalam kecenderungannya yang religius, untuk bisa ragu sedikitpun.

Dalam lakon The Crucible, Hale pada akhirnya guncang juga: sejumlah orang dihukum mati, meskipun mereka sebenarnya tak bisa diputuskan dengan persis telah bersalah terlibat dalam bid'ah. Manusia – lengkap dengan perasaannya yang kalut dan dorongan hatinya yang tersembunyi – senantiasa mrucut untuk ditangkap untuk disimpulkan. Tentang hidup dan matinya , tentang Tuhan dan Iblisnya, ragu adalah sesuatu yang tak terelakkan.

Sebab manusia hanyalah sebatang gelagah yang berpikir, un roseau pensant, sebagaimana kata Blaise Pascal yang terkenal, ketika ia mencoba menunjukkan sekaligus kedahsyatan manusia dan kerapuhannya.

Pascal sendiri (lahir 1623 dan meninggal pada usia 40) dahsyat dan rapuh. Sebelum berumur 16 ia menulis sebuah risalah satu theorem yang mengejutkan Descartes, filosof itu. Pada umur 19 ia menemukan satu mesin hitung yang sebagiannya kini tersimpan di Conservatoire des Arts et Métiers, Paris. Pada umur 25, ia mengadakan eksperimen dengan satu tabung berisi merkuri yang kemudian jadi prinsiop barometer. Bersama Fermat ia dikenal sebagai ilmuwan yang mengembangkan penghitungan probabilitas.

Tapi dengan otak yang demikian cemerlang, Pascal hidup sakit-sakitan; sejak umur 18 syarafnya rusak, dan kemudian tak bisa bergerak tanpa tongkat penyangga. Meskipun demikian, bukan hanya sakit itu yang mengubah hidupnya.

Pada hari Senin 23 November 1645, ia naik sebuah kereta berkuda melintasi Pont de Neully. Tiba-tiba kedua ekor kuda itu terkejut dan terlontar ke Sungai Seine. Kereta itu hampir ikut terjungkal, tapi untung kendali putus dan badan kendaraan itu tergantung-gantung di tebing. Pascal pingsan. Ketika ia siuman, ia merasa baru mengalami sesuatu yang luar biasa: Tuhan datang kepadanya. Pengalaman itu digoreskannya pada sebuah catatan yang ia jahit ke dalam lipatan jas panjangnya untuk dibawa ke mana saja.

"Tuhan Ibrahim, Tuhan Isak, Tuhan Yakub, bukan tuhan para filosof dan ilmuwan. Kepastian, kepastian. Rasa, suka cita, damai, Tuhan Yesus Kristus…"

Sejak itu, ia tak hanya akan dikenal sebagai ilmuwan. Catatan-catatan pendek yang merekam pikirannya, dan ia guratkan dalam keadaan tubuh yang kian sakit, diketemukan terserak-serak. Baru pada 1670, sewindu setelah ia meninggal, coretan itu dihimpun dan sebuah buku terbit dengan judul, Pensées de M. Pascal sur la réligion, et autre sujets.

Pensées tak kalah termashur dengan dalil yang dirumuskan Pascal dalam Fisika: serangkai percikan yang meneguhkan pilihannya untuk beriman, sebab iman bukanlah dalil. Pilihan itu sebuah "taruhan" – sebuah langkah yang melibatkan seluruh hidup, dengan segala risikonya. Tak mungkin Tuhan dibuktikan secara ilmiah. Iman harus mengambil jalan yang tak bisa pasti. Tapi Pascal sudah memutuskan. Ia membuat sebuah insinye dengan tulisan, Scio cui credidi ("Aku tahu siapa yang aku telah imani").

Tapi juga dengan pilihan itu pun, ia tak bisa berhenti untuk resah. "Alam tak menawarkan apapun yang tak membuat ragu dan cemas", tulisnya. "Jika tak kulihat tanda keilahian, aku akan tetap dalam pengingkaran. Jika kulihat di mana-mana jejak-jejak satu Pencipta, aku akan istirah damai dalam iman. Tapi aku dalam keadaan nestapa: melihat begitu banyak, hingga aku tak bisa mengingkari-Nya, dan melihat begitu sedikit hingga aku tak yakin.

Seratus kali aku ingin: jika ada seorang Tuhan yang mendukung alam ini, akan ditampakkan Ia tanpa ambiguitas".

Keinginannya adalah keinginan yang religius secara mendalam. Namun bahkan sang ilmuwan tak bicara tentang Tuhan yang persis. Ia bicara tentang Tuhan yang hanya bisa ia rumuskan dengan kata-kata yang menyentuh, terasa sakit kadang-kadang, tapi dengan hasrat yang tak terlarai.

Goenawan Mohamad

Read more
By Eko NP Andi | Thursday, April 08, 2010
Posted in: | 2 komentar

[Seandainya... ]

Di sebuah hari Minggu.

Hari itu masih pagi. Aku akan mengenangnya sebagai hari minggu yang kelam dalam hidupku. Keacuhanku terhadap nurani.

Aku ingat, hari itu akan diadakan ujian kenaikan tingkat Tae Kwon-do. Sabuk kuning yang melingkar dipinggangku ini harus ditambah dengan strip. Tepat ketika jam di dinding rumahku menunjukkan angka tujuh sekian menit, aku segera menyambar sepedaku. Sebenarnya ujian baru akan dimulai jam delapan, namun mengingat jarak dari rumah ke lokasi ujian yang jauh, aku harus segera bergegas atau terlambat.

Hari Minggu kali ini terasa aneh. Suasananya begitu sunyi. Senyap dan dingin. Tak seperti hari minggu biasanya, yang ramai oleh obrolan ibu-ibu yang berbelanja di depan rumah. Aneh.

Belum jauh aku mengayuh sepedaku, hanya empat ratus meter dari rumah. Kulihat dua orang dipinggir jalan. Seorang lelaki dan perempuan setengah baya. Si lelaki terlihat kebingungan mencari pertolongan, sementara si perempuan tergeletak tak berdaya, dengan darah yang sudah menggenang. Aku tak tahu bagaimana keadaan si ibu itu, yang kulihat tak ada gerakan yang dilakukannya. Dan si lelaki, yang kuduga adalah anaknya masih kebingungan.

Entah apa yang ada dalam pikiranku saat itu. Aku tak berhenti mengayuh sepeda. Hanya memandangi sekilas si ibu itu tergeletak tanpa daya dan membiarkan si anak dalam kebingungan. Aku tahu sedang terjadi pergulatan batin dalam diriku. Menciptakan pilihan-pilihan kemungkinan. Menolong si anak mencari bantuan atau segera berangkat untuk menghindari keterlambatan. Dan, sebuah pilihan yang tak manusiawi telah kujatuhkan. Meninggalkan mereka berdua untuk kepentingan sendiri.

Sepulang dari tempat ujian, kudengar dari sayup-sayup percakapan di depan rumah. Ada sebuah kejadian. Dua orang yang terjatuh dari motor dan salah satu diantaranya meninggal dunia. Lengkap dengan detil lokasi kejadian dan beberapa detil lainnya. Saat itu aku merasa sangat bersalah, apabila pilihan pertama tak kuambil kemungkinan satu nyawa tak akan melayang. Mungkin si ibu masih beraktivitas sebagaimana biasa, dan si anak tak kehilangan ibunda tercintanya. Ahh...

Read more
By Eko NP Andi | Thursday, April 08, 2010
Posted in: | 3 komentar

[Persinggahan...]

Disinilah diriku berada. Sebuah persinggahan untuk kesekian kalinya. Namun, aku masih tak tahu benar alasan untuk berada di sini. Untuk sebuah mimpi? Sama sekali tak terbayangkan sebelumnya. Untuk sebuah pengabdian? Sebuah jawaban yang absurd. Tetapi disinilah aku kali ini.

Yah, disinilah aku berada. Hanya sebuah persinggahan atas proses kehidupan. Padahal, entah sudah berapa kali penawaran untuk ke tempat ini kuabaikan. Namun di hari itu, yang selama ini aku abaikan ternyata harus kuiyakan juga. Entah untuk alasan apa selain alasan khas orang Jawa, sungkan. Tetapi alasan apapun itu, yang jelas aku ada di sini.

Huffff, akhirnya kubiarkan semua proses ini berjalan sebagaimana seharusnya. Setiap aliran air selalu bermuara ke lautan. Darimana pun aliran itu berasal. Disinilah persinggahanku selanjutnya, untuk kemudian singgah entah kemana lagi.

Read more