Posted in:
By Eko NP Andi 5 komentar

Maryamah Karpov


Setelah sekian lama ditunggu-tunggu, akhirnya Maryamah Karpov, seri pamungkas dari tetralogi Laskar Pelangi terbit juga. Maryamah Karpov turun cetak dengan sub-judul mimpi-mimpi Lintang, yang membuat banyak pembacanya semakin penasaran.

Setelah mendapat kabar bahwa novel ini akan terbit tanggal 28 November, aku sudah tak sabar untuk segera melengkapi koleksi tetralogi itu. Maka, senin (1/12/2008), setelah malam sebelumnya seorang kawan meneleponku dan dengan menyebalkannya bilang jika dia sudah membeli buku itu, kuputuskan ke Toga Mas membeli buku itu. Yah, walupun setelah itu aku harus menanggung akibatnya, dalam 2 minggu ke depan kelaparan terbayang di depan mata. Halah udahlah, kembali ke soal novel tadi saja. Setelah membaca tandas dalam semalam, maka inilah review-nya.

***

Andrea masih setia membagi cerita-ceritanya dalam mozaik sebagaimana biasa. Dalam novel ini setidaknya bisa kubagi dalam tiga bagian. Bagian pertama bercerita tentang masa-masa akhir Ikal di Paris, tentang bagaimana dirinya menaklukkan sang wanita perkasa dalam ujian tesisnya, perjalanan terakhirnya mengunjungi tempat-tempat di Eropa yang berkesan baginya, juga tak lupa pula mampir ke Edensor hingga kembali ke tanah kelahirannya di Belitong.

Bagian kedua buku ini bercerita tentang awal sebuah misi pencarian. Sejak penemuan mayat bertato kupu-kupu oleh orang-orang bersarung, batin Ikal berkecamuk tak karuan. Dalam otaknya tersusun asumsi-asumsi tentang peristiwa itu dengan pemilik kuku terindah di dunia, A Ling. Kalian tahu kenapa. Singkat kata, Ikal berencana membuat sebuah perahu yang akan digunakannya menyusuri lautan hingga ke pulau Batuan, tempat persembunyian para perompak Selat Malaka yang terkenal seantero jagad itu. Dan kalian tahu kawan, para anggota Laskar Pelangi berkumpul membantu Ikal dalam usaha pembuatan perahu itu. Tak ketinggalan juga putra si pria cemara angin, Lintang, turut serta. Hingga akhirnya perahu tersebut dinamakan mimpi-mimpi Lintang, karena perahu ini berhasil diselesaikan lewat sumbangan pemikiran brilian Lintang.

Bagian ketiga adalah pencarian itu sendiri. Akhirnya Ikal berhasil sampai di Pulau Batuan setelah Mahar menyogok Tuk Bayan Tula dengan sebuah televisi portable. Apakah Ikal berhasil menemukan pujaan hatinya itu? Baca bukunya aja deh...

***

Secara keseluruhan buku ini cukup menghibur. Andrea Hirata banyak melucu dalam novel pamungkasnya ini, walau ada juga kisah yang menyedihkan.

Ketika Andrea menceritakan orang-orang Melayu banyak hiburan di sana. Aku yang biasanya tak mudah tertawa oleh lelucon orang Melayu dibuatnya terbahak-bahak. Bagaimana tidak, kegemaran orang Melayu menambahkan nama belakang seseorang terasa ganjil bagiku, bagi kebanyakan orang tentunya. Pemberian nama itu disesuaikan dengan keadaan, peristiwa yang terkenang tentang si orang tersebut. Maka muncullah nama Berahim Harap Tenang, Munawir Berita Buruk, Sema'un Barbara, Eksyen, dan banyak lagi nama aneh yang lain.

Cerita Ikal tentang sang Ayah menyebabkanku terdorong ke dalam pintu masa lalu. Mengingatkan diriku tentang nukilan kisah yang kuhabiskan bersama Ayah. Oke lah, suatu hari nanti akan kuceritakan pada kalian dalam posting tersendiri.

Walau memasang judul Maryamah Karpov, tak banyak cerita yang menyinggungnya. Sang Mak Cik hanya disinggung karena gemar mengajari langkah-langkah sang Grand Master Anatoli Karpov, inilah mengapa menempel nama Karpov di belakang namanya, pada orang yang bermain catur.

Terlepas dari kekurangannya buku ini memang patut dibaca oleh para pecinta Laskar Pelangi. Selamat membaca....

5 Responses so far.

  1. ndop says:

    "Maka muncullah nama Berahim Harap Tenang, Munawir Berita Buruk, Sema'un Barbara, Eksyen, dan banyak lagi nama aneh yang lain."

    ngakak baca yang itu... wakakaka...

  2. kodoxs says:

    asli bagian yang ini sebenarnya yg bikin ketawa, cukup menghibur..

    thanks, ndop...

  3. pinjem dunk

  4. ant says:

    weleh2 gile bacanya cuman semalaman mas? Padahal menantinya udah setahun lebih hwa ha ha ah aa

    iya2 bikin ngakak bacanya. Tapi endingnya itu lho membuat haru...

    CU

  5. Dibanding buku terdahulunya ini buku boleh dibilang yg plg jelek...
    Kebanyakan bermetafora tuh si Andrea...