By Eko NP Andi | Friday, April 16, 2010
Posted in: | 1 komentar

Persis

Senin, 22 Maret 2010

Pendeta Hale datang jauh-jauh ke Kota Salem di akhir abad ke-17 itu dengan keyakinan ia akan menghalau kejahatan dari muka bumi. Ia diundang ke kota di Teluk Massachussets itu untuk memeriksa satu kasus santet: ada seorang anak gadis yang pingsan terjatuh di hutan, dan ada seorang budak hitam dari Barbados yang dituduh jadi dukun setan yang menyebarkan bid'ah dan malapetaka.

Dalam lakon The Crucible Arthur Miller ini Pendeta Hale tampil sebagai seorang yang ingin mendekati persoalan dengan logis dan ilmiah. Ia berbeda dari orang-orang udik itu. Ia tak ingin terlibat dalam takhyahul. "We cannot look to superstition in this. The Devil is precise".

Tapi ia tak merasa, ada kontradiksi dalam kata-kata itu. Ia menolak takhayul, namun baginya Setan bukanlah sesuatu yang ambigu. Setan itu hadir secara pasti dan akurat. Hale membedakan dengan jelas antara keyakinannya yang berdasarkan Alkitab dan takhayul; baginya, iman dapat ditunjang dengan sikap ilmiah. Tapi pada saat yang sama ia tak menggunakan dasar paling mula dari sikap ilmiah. Ia tak hendak mempertanyakan dan menguji tiap hipotesa; ia tak bertekad mendapatkan pembuktian secara empiris. Hale, yang hidup di zaman sebelum empirisisme John Locke terdengar, datang ke kota udik itu dengan buku-buku tebal. "Ilmiah" baginya rasional, tapi itu saja: tak bertolak dari pengamatan, tak berangkat dari pengalaman dalam ruang dan waktu.

Maka "the Devil is precise", kata Hale. Demikian pula keyakinan tentang Tuhan. Itu sebabnya ia menganggap theologi sebagai sebuah "benteng" yang tak bisa retak, biar pun kecil. Ia tak memberi kemungkinan ada seorang, justru dalam kecenderungannya yang religius, untuk bisa ragu sedikitpun.

Dalam lakon The Crucible, Hale pada akhirnya guncang juga: sejumlah orang dihukum mati, meskipun mereka sebenarnya tak bisa diputuskan dengan persis telah bersalah terlibat dalam bid'ah. Manusia – lengkap dengan perasaannya yang kalut dan dorongan hatinya yang tersembunyi – senantiasa mrucut untuk ditangkap untuk disimpulkan. Tentang hidup dan matinya , tentang Tuhan dan Iblisnya, ragu adalah sesuatu yang tak terelakkan.

Sebab manusia hanyalah sebatang gelagah yang berpikir, un roseau pensant, sebagaimana kata Blaise Pascal yang terkenal, ketika ia mencoba menunjukkan sekaligus kedahsyatan manusia dan kerapuhannya.

Pascal sendiri (lahir 1623 dan meninggal pada usia 40) dahsyat dan rapuh. Sebelum berumur 16 ia menulis sebuah risalah satu theorem yang mengejutkan Descartes, filosof itu. Pada umur 19 ia menemukan satu mesin hitung yang sebagiannya kini tersimpan di Conservatoire des Arts et Métiers, Paris. Pada umur 25, ia mengadakan eksperimen dengan satu tabung berisi merkuri yang kemudian jadi prinsiop barometer. Bersama Fermat ia dikenal sebagai ilmuwan yang mengembangkan penghitungan probabilitas.

Tapi dengan otak yang demikian cemerlang, Pascal hidup sakit-sakitan; sejak umur 18 syarafnya rusak, dan kemudian tak bisa bergerak tanpa tongkat penyangga. Meskipun demikian, bukan hanya sakit itu yang mengubah hidupnya.

Pada hari Senin 23 November 1645, ia naik sebuah kereta berkuda melintasi Pont de Neully. Tiba-tiba kedua ekor kuda itu terkejut dan terlontar ke Sungai Seine. Kereta itu hampir ikut terjungkal, tapi untung kendali putus dan badan kendaraan itu tergantung-gantung di tebing. Pascal pingsan. Ketika ia siuman, ia merasa baru mengalami sesuatu yang luar biasa: Tuhan datang kepadanya. Pengalaman itu digoreskannya pada sebuah catatan yang ia jahit ke dalam lipatan jas panjangnya untuk dibawa ke mana saja.

"Tuhan Ibrahim, Tuhan Isak, Tuhan Yakub, bukan tuhan para filosof dan ilmuwan. Kepastian, kepastian. Rasa, suka cita, damai, Tuhan Yesus Kristus…"

Sejak itu, ia tak hanya akan dikenal sebagai ilmuwan. Catatan-catatan pendek yang merekam pikirannya, dan ia guratkan dalam keadaan tubuh yang kian sakit, diketemukan terserak-serak. Baru pada 1670, sewindu setelah ia meninggal, coretan itu dihimpun dan sebuah buku terbit dengan judul, Pensées de M. Pascal sur la réligion, et autre sujets.

Pensées tak kalah termashur dengan dalil yang dirumuskan Pascal dalam Fisika: serangkai percikan yang meneguhkan pilihannya untuk beriman, sebab iman bukanlah dalil. Pilihan itu sebuah "taruhan" – sebuah langkah yang melibatkan seluruh hidup, dengan segala risikonya. Tak mungkin Tuhan dibuktikan secara ilmiah. Iman harus mengambil jalan yang tak bisa pasti. Tapi Pascal sudah memutuskan. Ia membuat sebuah insinye dengan tulisan, Scio cui credidi ("Aku tahu siapa yang aku telah imani").

Tapi juga dengan pilihan itu pun, ia tak bisa berhenti untuk resah. "Alam tak menawarkan apapun yang tak membuat ragu dan cemas", tulisnya. "Jika tak kulihat tanda keilahian, aku akan tetap dalam pengingkaran. Jika kulihat di mana-mana jejak-jejak satu Pencipta, aku akan istirah damai dalam iman. Tapi aku dalam keadaan nestapa: melihat begitu banyak, hingga aku tak bisa mengingkari-Nya, dan melihat begitu sedikit hingga aku tak yakin.

Seratus kali aku ingin: jika ada seorang Tuhan yang mendukung alam ini, akan ditampakkan Ia tanpa ambiguitas".

Keinginannya adalah keinginan yang religius secara mendalam. Namun bahkan sang ilmuwan tak bicara tentang Tuhan yang persis. Ia bicara tentang Tuhan yang hanya bisa ia rumuskan dengan kata-kata yang menyentuh, terasa sakit kadang-kadang, tapi dengan hasrat yang tak terlarai.

Goenawan Mohamad

Read more
By Eko NP Andi | Thursday, April 08, 2010
Posted in: | 1 komentar

[Seandainya... ]

Di sebuah hari Minggu.

Hari itu masih pagi. Aku akan mengenangnya sebagai hari minggu yang kelam dalam hidupku. Keacuhanku terhadap nurani.

Aku ingat, hari itu akan diadakan ujian kenaikan tingkat Tae Kwon-do. Sabuk kuning yang melingkar dipinggangku ini harus ditambah dengan strip. Tepat ketika jam di dinding rumahku menunjukkan angka tujuh sekian menit, aku segera menyambar sepedaku. Sebenarnya ujian baru akan dimulai jam delapan, namun mengingat jarak dari rumah ke lokasi ujian yang jauh, aku harus segera bergegas atau terlambat.

Hari Minggu kali ini terasa aneh. Suasananya begitu sunyi. Senyap dan dingin. Tak seperti hari minggu biasanya, yang ramai oleh obrolan ibu-ibu yang berbelanja di depan rumah. Aneh.

Belum jauh aku mengayuh sepedaku, hanya empat ratus meter dari rumah. Kulihat dua orang dipinggir jalan. Seorang lelaki dan perempuan setengah baya. Si lelaki terlihat kebingungan mencari pertolongan, sementara si perempuan tergeletak tak berdaya, dengan darah yang sudah menggenang. Aku tak tahu bagaimana keadaan si ibu itu, yang kulihat tak ada gerakan yang dilakukannya. Dan si lelaki, yang kuduga adalah anaknya masih kebingungan.

Entah apa yang ada dalam pikiranku saat itu. Aku tak berhenti mengayuh sepeda. Hanya memandangi sekilas si ibu itu tergeletak tanpa daya dan membiarkan si anak dalam kebingungan. Aku tahu sedang terjadi pergulatan batin dalam diriku. Menciptakan pilihan-pilihan kemungkinan. Menolong si anak mencari bantuan atau segera berangkat untuk menghindari keterlambatan. Dan, sebuah pilihan yang tak manusiawi telah kujatuhkan. Meninggalkan mereka berdua untuk kepentingan sendiri.

Sepulang dari tempat ujian, kudengar dari sayup-sayup percakapan di depan rumah. Ada sebuah kejadian. Dua orang yang terjatuh dari motor dan salah satu diantaranya meninggal dunia. Lengkap dengan detil lokasi kejadian dan beberapa detil lainnya. Saat itu aku merasa sangat bersalah, apabila pilihan pertama tak kuambil kemungkinan satu nyawa tak akan melayang. Mungkin si ibu masih beraktivitas sebagaimana biasa, dan si anak tak kehilangan ibunda tercintanya. Ahh...

Read more
By Eko NP Andi | Thursday, April 08, 2010
Posted in: | 3 komentar

[Persinggahan...]

Disinilah diriku berada. Sebuah persinggahan untuk kesekian kalinya. Namun, aku masih tak tahu benar alasan untuk berada di sini. Untuk sebuah mimpi? Sama sekali tak terbayangkan sebelumnya. Untuk sebuah pengabdian? Sebuah jawaban yang absurd. Tetapi disinilah aku kali ini.

Yah, disinilah aku berada. Hanya sebuah persinggahan atas proses kehidupan. Padahal, entah sudah berapa kali penawaran untuk ke tempat ini kuabaikan. Namun di hari itu, yang selama ini aku abaikan ternyata harus kuiyakan juga. Entah untuk alasan apa selain alasan khas orang Jawa, sungkan. Tetapi alasan apapun itu, yang jelas aku ada di sini.

Huffff, akhirnya kubiarkan semua proses ini berjalan sebagaimana seharusnya. Setiap aliran air selalu bermuara ke lautan. Darimana pun aliran itu berasal. Disinilah persinggahanku selanjutnya, untuk kemudian singgah entah kemana lagi.

Read more
By Eko NP Andi | Sunday, November 01, 2009
Posted in: | 2 komentar

Negeri 5 Menara

Judul : Negeri 5 Menara

Pengarang : A. Fuadi

Halaman : xiii+416 halaman

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama


Awan yang berarak, menampakkan bentuk yang berbeda dimata enam orang anak manusia. Dalam gambaran di kepala mereka masing-masing, tergambar benua impian mereka yang mereka titipkan di awan. Ada mantera ajaib, man jadda wa jadda, yang menjaga impian-impian mereka.


Alif adalah anak Minang yang merantau ke Jawa. Berbekal sedikit informasi yang dituliskan pamannya lewat surat, dan keinginan sang ibu yang menginginkan Alif menjadi seperti Buya Hamka (walau Alif sebenarnya ingin seperti Habibie), akhirnya Alif memutuskan menuntut ilmu di Pondok Madani di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur.

Berawal dari hukuman yang harus diterima di hari pertama resmi menjadi santri Pondok Madani, selanjutnya kita sebut PM, Alif berkawan akrab dengan lima orang kawan hukumannya itu. Adalah Raja, si anak Medan yang cerdas, Baso santri dari Gowa, yang bercita-cita menjadi hafidz, Atang, anak sunda yang keranjingan teater, Dulmajid, santri dari Madura, dan Said, pemimpin informal mereka.

Keenam sahabat ini menamakan dirinya Sahibul Menara. Karena kebiasaan mereka berkumpul di bawah menara masjid PM setiap menjelang magrib. Di bawah menara itulah mereka membicarakan mimpi-mimpi mereka.

Walaupun merasa betah mondok di PM, namun Alif tak benar-benar betah. Cita-citanya menjadi seperti Habibie masih sering menghantuinya, apalagi surat-surat yang dikirimkan Radai membuat Alif bimbang dengan masa depannya. Nah, daripada saya tulis semua mendingan di baca sendiri saja ya? Hehehe…

***

Awalnya saya tidak begitu tertarik dengan novel ini, hanya karena bahan bacaan saya sudah habis dan pengen banget baca, jadilah lewat sebuah pertukaran dengan seorang kawan buku ini sampai di tangan saya. Ternyata, ketidaktertarikan saya salah. Novel ini begitu menarik. Dan itu sudah dimulai dengan covernya, ada lima buah menara. Ada monas, bigben di London, monumen Washington, dan dua menara yang lebih menyerupai masjid, entah di mana. Dan, ada lagi yang menarik selain gambar menara, yaitu pemilihan angka 5-nya. Unik, dan seperti menyimbolkan sesuatu.

Kemudian ketertarikan saya berlanjut pada mantra sakti yang jadi pengikat di novel ini, man jadda wajada, siapa bersungguh-sungguh akan sukses. Itulah mantra yang membulatkan tekad Alif untuk bertahan di PM. Kalimat sederhana namun punya kekuatan yang luar biasa.

Novel ini sangat menarik. Perspektif pondok pesantren yang benar-benar berbeda dari yang selama ini saya kenal. Tidak mengherankan sebenarnya, karena novel ini sendiri terinspirasi oleh kisah penulis sewaktu masih nyantri di Pondok Modern Gontor. Saya jadi tahu seperti apa pola pendidikan di Gontor, meski saya sendiri pernah juga berada di Pondok (walaupun hanya sebentar) namun terasa sekali perbedaan suasana yang ada. Dulu, imtihan di ponpes saya seolah petaka bagi para santri, tapi di PM malah disambut bak pesta besar. Tidak terbayangkan dalam benak saya bagaimana jika mengigau dalam bahasa Inggris, mengumpat dalam bahasa Arab, berbahasa sehari-hari dengan bahasa Arab dan Inggris-dan “hanya” dalam waktu 3 bulan harus mahir.

Kenikmatan membaca novel ini sedikit terganggu dengan banyaknya kesalahan ketik di beberapa bagian. Walaupun sekilas mirip dengan Laskar Pelangi, tapi novel ini mempunyai kekhasan sendiri, yaitu mantra sakti man jadda wajada.

Oh iya, lewat novel ini penulisnya, Ahmad Fuadi, meniatkan untuk menyisihkan setengah dari royalti untuk merintis komunitas Menara. Sebuah organisasi sosial yang berbasis volunteer yang menyediakan sekolah, perpustakaan, rumah sakit dan dapur umum untuk yang tidak mampu dan gratis.

***

Membaca novel ini serasa benar-benar bernostalgia ketika berada di pondok. Walaupun saya mondok hanya sebentar, kurang dari dua tahun, dan belum banyak yang saya dapat, namun suasana kehidupan pondok masih kuat membekas.

Awalnya saya menolak untuk masuk pondok, tapi setelah orang tua saya keukeuh membujuk, akhirnya saya melunak. Dalam bayangan saya sudah tergambar yang tidak-tidak yang bakal terjadi jika di pondok. Kebetulan pondok tersebut letaknya berdekatan dengan SMA tempat saya sekolah. Pagi sekolah, sisanya belajar di pondok.

Walaupun pelajaran agama yang saya dapat di pondok terbilang sedikit, namun ada pelajaran lain yang saya dapat, kebersamaan. Semua kegiatan dilakukan bersama-sama, kecuali mandi. Salah satu yang paling berkesan adalah saat makan. Masing-masing orang yang akan ikut makan harus urunan satu gelas beras dan uang yang akan digunakan untuk belanja. Setelah selesai masak, barulah semua masakan tadi di taruh dalam satu loyang besar dan disitulah kita makan bersama. Anak-anak pondok menyebut acara makan itu ro’an. Tradisi ini kemudian saya temukan lagi di Indikator.

Saat penulis novel ini menuturkan minum kopi satu ember, saya juga tak kaget. Lha wong pas di pondok, saya juga melakukannya, walau hanya pada saat-saat tertentu saja, misalnya selesai imtihan. Seringnya kita ngopi dengan satu cerek plastik dan satu gelas, kemudian kita nikmati bersama sambil ngobrol ngalor-ngidul.

Sebenarnya saya betah berada di pondok, karena saat itu saya sudah kelas tiga, orang tua menghendaki saya mengundurkan diri dari pondok untuk berkonsentrasi menyiapkan ujian akhir. Akhirnya saya mengundurkan diri, walau tak sepenuhnya, sesekali saya masih ngaji di pondok. Sampai akhirnya benar-benar keluar.

***

Read more
By Eko NP Andi | Tuesday, October 13, 2009
Posted in: | 0 komentar

Kastil

Seorang gubernur mengeluh. Saya kebetulan mendengarnya. Maka tahulah saya ada yang ganjil yang jadi rutin dalam pemerintahan kota yang dipimpinnya, seakan-akan sang gubernur dan administrasinya muncul dari novel Kafka, seakan-akan Kafka bukan hidup di Praha di awal abad ke-20 melainkan di Jakarta, mungkin sekitar Gambir, sejak empat dasawarsa ini.

Tapi cerita ini bukan buah imajinasi seorang sastrawan: pada suatu hari di tahun 1990-an gubernur itu memang mengirim surat dinas ke direktur kebun binatang di Ragunan. Berhari-hari ia tak menerima jawaban dari bawahannya itu. Kemudian baru ia ketahui, surat yang ditandatanganinya itu perlu waktu tiga bulan untuk keluar dari kantor gubernuran. Berminggu-minggu kertas itu diteruskan dari biro satu ke biro lain di dalam kantor yang sama, sebelum akhirnya dikirim ke alamat yang dimaksud.

Gubernur itu, seorang perwira tinggi angkatan darat yang lurus hati yang diberi jabatan itu baru satu tahun, bertanya seakan-akan pada dirinya sendiri: “Kantor macam apa ini?”

Seorang wali kota juga mengeluh. Atau mungkin lebih tepat terenyak. Ia seorang mantan pengusaha sukses yang dipilih dengan penuh harapan oleh rakyat di kota Jawa Tengah itu. Tapi pada hari pertama ia masuk kantor balai kota, ia lihat ratusan orang duduk di dalamnya: para pegawai. Sebagian besar baca koran. Sebagian lagi main catur. Bahkan ada seorang pegawai perempuan asyik merajang sayur.

Sang wali kota pun pulang ke rumahnya dan termangu di hari pertama masa jabatannya: “Kantor macam apa itu?”

Jawabannya sangat mengejutkan: itu adalah kantor yang biasa saja, Pak-kantor pemerintah. Itu adalah kantor di mana mesin yang disebut birokrasi hadir, nongkrong, seakan-akan untuk membatalkan tesis Max Weber dan mengukuhkan gambaran yang absurd dalam karya-karya fiktif Kafka-meskipun cerita birokrasi Indonesia tak sepenuhnya bisa dijelaskan dengan kemuraman Kafka.

Max Weber, kita ingat, mempertautkan birokrasi dengan keniscayaan dunia modern. Berbeda dari kaki tangan raja-raja di zaman lampau, yang bekerja berdasarkan perpanjangan kharisma Yang-Dipertuan-Agung, birokrasi merupakan alat sebuah otoritas yang bersifat “legal-rasional”. Dalam tesis Weber, birokrasi membawa dalam dirinya aturan dan hierarki yang jelas. Organisasi itu punya arah atau sasaran yang terfokus, dan ia dengan sadar bersifat impersonal. Seluruh bangunan itu punya rasionalitas yang mantap.

Tapi apa kiranya yang “rasional” di kantor sang gubernur dan sang wali kota?

Gubernur kita tak tahu, wali kota kita tak tahu, saya juga tak tahu. Tapi jangan-jangan inilah “rasionalitas” itu: birokrasi itu adalah sebuah agregat yang lahir dari argumen bahwa ia diperlukan. Birokrat, kata Hannah Arendt dengan sedikit mencemooh, adalah “the functionaries of necessity”. Dengan catatan: necessity itu, keperluan yang tak bisa dielakkan itu, pada awal dan akhirnya ditentukan oleh dinamika organisasi itu sendiri. Birokrasi tak perlu punya sasaran untuk dicapai. Mesin itu berjalan mandiri.

Di sinilah yang absurd berlangsung-sesuatu yang dibuat alegorinya oleh Kafka dalam cerita pendeknya yang termasyur, Di Koloni Hukuman.

Di pulau itu, seorang opsir menjelaskan kepada seorang pengunjung tentang proses eksekusi yang akan dijalani seorang terhukum. Ia akan diletakkan telungkup di bawah sebuah mesin yang bekerja seperti sehimpun jarum tato raksasa, mesin yang akan menusuk si terhukum dan dengan itu akan tertulis sebuah kalimat perintah di tubuhnya. Setelah 12 jam, si terhukum mati.

Yang menarik dari penceritaan Kafka adalah bahwa yang jadi fokus bukan si terhukum; orang ini Cuma diam saja, bahkan tak tahu atau peduli apa kesalahannya. Melalui sang Opsir, tokoh utama yang muncul adalah mesin yang ganjil, brutal, dan rumit itu. Ketika sang Opsir yang mengoperasikan mesin itu tahu penggunaannya tak akan diizinkan lagi, ia membiarkan dirinya jadi korban. Mesin ada, dan sebab itu harus didapatkan sasarannya.

Birokrasi juga menyatakan diri perlu, tapi kita tak tahu apa fungsinya ketika ia hadir, dalam jumlah berlebih dan tak bekerja untuk satu hasil. Dalam aturan yang berlaku, sang wali kota tak boleh memecat pegawainya-meskipun ia sanggup bekerja dengan 20% saja dari tenaga yang ada. Bahkan tiap tahun ia harus menerima 700 pegawai baru.

Memang harus ditambahkan di sini: berbeda dari mesin yang digambarkan Kafka, aparat pemerintahan di kantor-kantor negara tak tampak mengerikan. Bahkan mungkin alegori Di Koloni Hukuman tak tepat dipakai. Mereka yang duduk menganggur di kantor wali kota itu tak punya ciri-ciri mesin yang efektif. Jika kita harus memakai kiasan Kafka-mungkin satu-satunya novelis yang dengan imajinatif menggambarkan dunia modern yang harus menanggungkan organisasi-maka birokrasi kita lebih mirip sebuah kastil.

Dalam novel Das Schlob, (artinya “kastil” dan juga “gembok”), kita dipertemukan dengan sebuah konstruksi yang mendominasi lanskap desa. Kastil itu menguasai wilayah itu, tapi tak tampak siapa yang punya. Ketika K datang untuk menghadap, yang disebut hanya seorang administrator yang bernama Klamm (dalam bahasa Cek berarti “ilusi”) yang tak pernah bisa ditemuinya.

Kekuasaan itu tak jelas, tapi terasa, kadang-kadang muncul, melalui lapisan staf dan telepon yang berdering dan tak disahut. Birokrasi yang impersonal itu pada akhirnya tak menjawab dan tak jelas kepada siapa ia bertanggung jawab. Di balik bangunan besar itu, mungkin sebenarnya hanya ada khaos. Gubernur itu menyerah. Wali kota itu menyerah.



Goenawan Mohamad

Catatan Pinggir, Tempo edisi 12-18 Oktober 2009

Read more
By Eko NP Andi | Tuesday, October 06, 2009
Posted in: | 3 komentar

Perahu Kertas


Judul : Perahu Kertas

Pengarang : Dewi Lestari/ Dee

Halaman : xii + 444 halaman

Harga : Rp 69. 000 (Gramedia), Rp. 58. 650 (Toga Mas)

Penerbit : Bentang Pustaka & Truedee Pustaka Sejati


Menghanyutlah perahu kertas, aliran sungai akan membawanya menyusuri riak-riak air, kadang tenang, kadang deras. Dibutuhkan keberuntungan untuk sebuah perahu kertas melewati tiap rintangan dalam perjalanan itu. Hingga pada suatu ketika sampailah dia pada muaranya, tempatnya berlabuh di akhir sebuah perjalanan panjang.

Seperti itulah pengalaman yang saya dapatkan setelah menyelesaikan karya terakhir dari Dewi Lestari tersebut. Kadang datar, kemudian oleng, hingga akhirnya kembali tegak. Novel ini terkesan filmis karena objek ceritanya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Tak seperti karya-karyanya terdahulu yang, menurut kawan-kawan saya, tergolong rumit. Saya sendiri baru membaca dua karya terakhir Dee, termasuk ini.

Secara umum, novel ini bercerita tentang kisah cinta antara dua tokoh utama dalam novel ini, Kugy dan Keenan. Dua sosok yang digambarkan Dee dengan kata unik dan ajaib. Kugy adalah keunikan itu, berantakan, pengkhayal, suka menulis dongeng dan bercita-cita menjadi penulis dongeng, sebuah cita-cita yang nggak banget. Sedangkan Keenan, cerdas, artistik, penuh kejutan, pelukis ajaib, dan bercita-cita menggantungkan hidupnya dengan menjadi pelukis.

Keduanya bertemu secara tidak sengaja, saling mengenal dan pada akhirnya saling mengagumi. Keduanya saling melengkapi dan mendukung impian, lengkap dengan bumbu-bumbu romansa sepanjang cerita adalah keasyikan tersendiri berlayar bersama perahu kertas.


***


Walaupun ini adalah karya dari Dee yang paling ringan, tidak akan menyesal membaca buku ini. Karena tetap sarat akan makna. Entah itu lewat cerita, ataupun lewat quotes yang dirangkai oleh si penulisnya. Quotes yang disajikan terbilang menarik, seperti ini contohnya:

Kenangan itu cuma hantu di sudut pikir. Selama kita cuma diam dan nggak berbuat apa-apa, selamanya dia tetap jadi hantu. Nggak akan pernah jadi kenyataan.

Untuk pembaca yang mudah teraduk emosinya, tak usah malu-malu jika ingin menangis. Hehehehe… Sekarang, saya mulai bingung mau nulis apalagi. Pastinya buku ini recommended. Well, selamat menyusuri riak-riak aliran Perahu Kertas. Sekarang sedang butuh bacaan lagi. Ada yang mau rekomendasi?

Read more
By Eko NP Andi | Friday, October 02, 2009
Posted in: | 0 komentar

Renovasi

Setelah sekian lama saya nggak menengok blog ini, tempo hari saya menemukannya berantakan. Gambar-gambarnya pada ngilang, kadaluarsa. Kasihan juga, melihat blog ini tak terurus dan tak tak terawat. Akhirnya, daripada rusak sama sekali mending saya perbaiki.
Milih-milih, browsang-browsing nyari templet dapatlah ini. Udah deh, di pasang.
Sebenarnya, lebih dari sekadar renovasi, keinginan saya adalah untuk kembali mengaktifkan kegiatan tulis-menulis blog ini. Semoga keinginan itu tidak hanya sekedar keinginan, saya pengen ada bukti pastinya. Di mulai dari posting ini. Hehehehe...

Read more