By Eko NP Andi | Tuesday, June 30, 2009
Posted in: | 0 komentar

Madakaripura Waterfall

Setelah mimpi ke Trowulan terwujudkan, maka perjalanan selanjutnya adalah air terjun Madakaripura. Di tempat inilah, dibawah air terjun Madakaripura, Gajah Mada bersemedi mendekatkan diri dengan Sang Pencipta dan, konon, hingga moksa.
Air terjun Madakaripura sendiri terletak di Desa Sapih, Kecamatan Lumbang, Kabupaten Probolinggo. Bersama Arif dan Mas Pandu, hari Minggu (28/06/09) kemarin, kami berangkat menuju Madakaripura dari Malang sekitar pukul 11. Motor kami pacu rata-rata dalam kecepatan 70 km/jam. Perjalanan menuju lokasi lumayan mengasyikan, dengan jalan aspal berkelok-kelok dan semakin menarik mendekati lokasi air terjun.
Kami sampai di Madakaripura kira-kira pukul 2, di depan pintu gerbang kami harus membayar uang masuk sebesar Rp. 2. 500/ kepala. Selembar uang sepuluh ribuan aku berikan, dan menerima pengembalian sebesar Rp. 2. 000. Lho? Ternyata tidak ada kembaliannya, ya sudah lah.

Setelah memarkir dua tunggangan kami, yang dikenai Rp. 1. 000/ motor, datanglah pemandu yang menawarkan jasa mengantar hingga ke air terjun. Sebenarnya kami tidak terlalu membutuhkan jasanya, tapi karena bapak, yang akhinya kutahu namanya Pak Siplin (55 th), itu gigih akhirnya kami pakai juga jasanya. Karena menurut beberapa referensi yang aku cari tarif sewa pemandu ini sebesar 30-50 ribu, maka kami mencoba menawar harga, tapi bapak itu tak hanya bilang “yah, terserah masnya saja..”. Satu masalah selesai pikirku, berarti dia mau dibayar berapa aja. Hehehe…
Perjalanan menuju air terjun kira-kira 2 km dari pintu masuk, menyeberangi sungai yang berbatu, menyusuri jalan setapak hingga air terjun. Bagi yang sering melakukan trekking mungkin tidak akan bermasalah, tapi bagi yang tak pernah ini akan menjadi perjalanan yang melelahkan. Aku memilih menikmati perjalanan (dan menemani mas Pandu yang sepertinya lumayan tersiksa. Hehehe…) dan menyerahkan pak Siplin pada Arif untuk mengajak berbincang.
Setelah melewati pos di bekas jembatan, yang menurut penuturan Pak Siplin hancur karena banjir bandang beberapa tahun lalu, sudah terlihat air terjun Madakaripura. Setelah menuruni sungai, kami mulai memasuki air terjun pertama yang menyerupai tirai. Beberapa orang mengingatkan derasnya air yang turun seperti hujan dengan menawarkan payung dan juga tas kresek agar barang bawaan tidak basah. Kami hiraukan tawarannya, karena ingin merasakan kenikmatan berhujan-hujan.
Mendekati air terjun, jalanan semakin sempit dan untuk sampai di air terjun utama kita harus menapaki batuan terjal dan licin. Air terjun utama ini menyerupai sumur, berada di bawahnya seakan kita berada di dasar sumur. Di tengah air terjun tersebut terdapat sebuah lubang, di situ dipercaya sebagai tempat Gajah Mada bersemedi. Cipratan air yang turun sangat deras, hingga menyebabkan kami tidak banyak mengabadikan keindahan air terjun ini.
Setelah puas berbasah-basahan, kami memutuskan kembali. Sebelum menyusuri jalan pulang, kami beristirahat sejenak untuk menimati kopi hangat dan gorengan bersama Pak Siplin. Sekalian untuk mengakrabkan diri dengan Pak Siplin, yang sedari tadi aku acuhkan, serta ibu pemilik warung. Dari mereka berdua aku mengetahui, bahwa awal dibukanya Madakaripura untuk umum adalah tahun 1981.
Setiap bulan-bulan tertentu di Madakaripura ini diadakan acara tayuban untuk keselamatan masyarakat sekitar. Ada cerita menarik mengapa dipilih acara tayub, karena dulu pernah pengelola dan masyarakat sekitar mengadakan acara dangdutan tapi rupanya penunggu Madakaripura tidak berkenan, maka datanglah banjir bandang. Sejak saat itu penduduk menggelar acara tayuban lengkap dengan ledre-nya.
Setelah ngobrol dan kopi pun habis kami melanjutkan perjalanan kembali. Untuk mengganti jasa pak Siplin kami menyerahkan uang Rp. 20. 000 dan kutawarkan sebatang rokok yang tersisa. Sekitar pukul 4 kami memutuskan pulang kembali ke Malang dan tawaran mas Pandu mengisi perut di Rawon Nguling awalnya bukan ide bagus, tapi setelah mas Pandu dengan “senang hati” bersedia membayari akhirnya jadi ide yang bagus. Hehehe… Ternyata, menurutku yang bukan ahli kuliner, rasanya biasa saja, tidak jauh berbeda seperti rawon-rawon kebanyakan, malah lebih enak rawon buatan ibu.
Sampai Malang jam menunjukkan pukul 7 malam, dan menyisakan kepuasan. Satu lagi jejak Majapahit kukunjungi, menyusul berikutnya beberapa tempat lagi.

Catatan:
Keindahan air terjun Madakaripura ternyata masih harus banyak dibenahi. Terlalu besarnya peran masyarakat dalam pengelolaan air terjun ini terasa mengganggu kenikmatan berwisata ke tempat ini. Sepertinya dinas terkait menyerahkan pengelolaan lokasi ini kepada penduduk sekitar. Mulai dari ticketing hingga guiding perlu dibenahi.
Ketika parkir, masing-masing kendaraan sudah dikenai biaya, ketika kami akan meninggalkan lokasi kami dimintai biaya tambahan untuk biaya cuci motor sebesar Rp. 3. 000/ motor. Nah lo, siapa coba yang minta di cucikan?
Kemudian juga untuk pemandu, tidak adanya standar besaran biaya yang jelas mengakibatkan pemandu seenaknya sendiri menetapkan harga. Rata-rata biaya yang diminta antara Rp. 20. 000 – Rp. 50. 000 untuk pengunjung lokal, dan Rp. 100. 000 untuk wisatawan asing. Tapi dilapangan kemarin, kami mendapati seorang bule dan dua orang teman lokalnya dimintai duit tambahan, setelah si bule menyerahkan Rp. 200. 000 kepada pemandu. Kemudian juga si wisatawan (yang katanya dari India) juga yang protes karena terlalu besarnya uang yang diminta. Jadi, sebaiknya ditetapkan berapa nominal yang harus di kenakan untuk jasa pemanduan tersebut, agar pengunjung dan pemandu saling diuntungkan.

Tips:
- Sebaiknya jangan menggunakan alas kaki dari kulit, lebih baik pakai sendal jepit atau tanpa alas kaki sekalian.
- Bawa juga tas plastik jika tidak ingin barang-barang bawaan basah.
- Untuk kenikmatan mengabadikan gambar sebaiknya bawa kamera SLR atau setidaknya lensa kamera terlindung dari air, karena cipratan air bisa mengganggu keindahan berfoto ria.
- Sebelum jalan, sebaiknya tanyakan dulu nominal yang diminta untuk jasa pemandu agar tidak kecele.

Read more
By Eko NP Andi | Friday, April 24, 2009
Posted in: | 0 komentar

Jalan-jalan ke Trowulan, kenapa tidak?

Beberapa bulan yang lalu, tepatnya tanggal 8 Februari 2009, akhirnya tercapai keinginan lama saya ke situs Majapahit di Trowulan, Mojokerto. Perjalanan ini saya lakukan bersama seorang teman, yang begitu penasaran akan kontroversi pembangunan Pusat Informasi Majapahit. Menggunakan sepeda motor, perjalanan dari Malang-Trowulan memakan waktu kurang lebih 3 jam, dengan kecepatan rata-rata 80 km/jam.

Seperti diketahui, Trowulan diyakini sebagai ibu kota Kerajaan Majapahit (1293-1521). Di kawasan tersebut, banyak sekali sisa-sisa bangunan yang menunjukkan kejayaan kerajaan Majapahit. Diantaranya adalah kolam segaran yang berukuran besar, yang menurut berbagai sumber berukuran kurang lebih 6,5 hektare. Kemudian ada juga bangunan candi, baik Hindu maupun Budha. Seperti Candi Brahu, Candi Bajang Ratu, Candi Tikus, dan Candi Gentong. Di situs Trowulan juga ditemukan situs pemukiman penduduk, dan lantai segienam.


Kolam Segaran

Begitu masuk kompleks situs Trowulan, kami langsung disambut oleh pemandangan sebuah kolam berukuran raksasa. Kira-kira seluas dua lapangan sepakbola. Menurut cerita turun temurun dari masyarakat sekitar, di kolam ini dulu tempat perjamuan tamu dari luar negeri. Setelah perjamuan usai, piring dan peralatan makan yang digunakan (yang terbuat dari emas) di buang ke kolam. Hal ini untuk menunjukkan kepada para tamu bahwa Majapahit begitu kaya.

Versi lain menerangkan bahwa kolam segaran adalah tempat latihan militer dan waduk. Keterangan ini dibuktikan dengan adanya pintu air di sisi luar kolam dan luas kolam itu sendiri.


Pendopo Agung

Perjalanan kami lanjutkan ke lokasi yang diduga dulunya adalah tempat berdirinya Pendopo Agung. Bangunan yang ada saat ini adalah hasil dari rekonstruksi yang dilakukan oleh Kodam V Brawijaya.

Di tempat yang diduga Pendopo Agung tersebut kita bisa melihat relief-relief yang menggambarkan bagaimana kebesaran kerajaan Majapahit, disamping itu ada pula sebuah relief yang menggambarkan saat Mahapatih Gajah Mada menggucapkan Sumpah Palapa. Begini kurang lebih bunyi dari sumpah yang begitu termasyur itu:

Sira Gajah Madapatih Amangkubhumi tan ayun amuktia palapa, sira Gajah Mada: "Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, TaƱjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa".

Terjemahannya kurang lebih berbunyi:

Saya Gajah Mada Patih Amangkubumi tidak ingin melepaskan puasa. Saya Gajah Mada, "Jika telah mengalahkan Nusantara, saya (baru akan) melepaskan puasa. Jika mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru akan) melepaskan puasa".

Di depan pintu gerbang, terdapat patung raja pertama Majapahit, Raden Wijaya saat di wisuda menjadi raja. Di belakang pendopo, terdapat pemakaman tua. Kemungkinan pemakaman tersebut adalah makam para abdi kerajaan yang telah memeluk agama Islam


Pusat Informasi Majapahit (PIM)

Setelah berkeliling ke Pendopo Agung, ternyata ada satu lokasi yang tadi terlewatkan. Tempat itu adalah Pusat Informasi Majapahit (PIM), museum yang menyimpan peninggalan-peninggalan bersejarah peninggalan kerajaan Majapahit. Seperti arca, prasasti, relief, dan komponen candi.

Di sini diperlihatkan pula Surya Majapahit. Surya Majapahit merupakan salah satu ciri khas peninggalan kerajaan Majapahit dengan bentuk lingkaran sebagai perwujudan pancaran sinar matahari. Pada bagian dalamnya terdapat relief sembilan dewa penjaga mata angin yang disebut "Dewata Nawa Sanga", sebagai dewa utama yang berada di lingkaran utama. Terdiri Siwa (Pusat), Iswara (Timur), Mahadewa (Barat), Wisnu (Utara), Brahma (Selatan), Sambhu (Timur Laut), Rudra (Barat Daya), Mahesora (Tenggara), dan Sangkara (Barat Laut). Sedangkan dewa minor berada pada sinar yang memancar. Terdiri dari Indra (Timur), Agni (Tenggara), Yama (Selatan), Nrrti (Barat Daya), Baruna (Barat), Bayu (Barat Laut), Kuwera (Utara), dan Isana (Timur Laut).

Koleksi yang dimiliki PIM bisa dikatakan lengkap. Museum ini tidak hanya menyimpan koleksi peninggalan kerajaan Majapahit saja, tapi juga hasil kebudayaan masa lampau. Seperti logam, fosil, dan peralatan berburu.

Oh iya, di PIM juga terdapat situs rumah tinggal. Kami pun melihat lokasi pembangunan Majapahit Park yang sempat menjadi pro-kontra, hanya sayangnya kami tak bisa masuk kesana.


Candi Tikus

Perjalanan kami lanjutkan ke Candi Tikus. Candi ini secara administratif terletak di Desa Temon, Trowulan,

Mojokerto. Dinamakan Candi Tikus, karena dulunya saat candi ini di eskavasi banyak sekali tikus yang keluar dari bangunan tersebut. Dinding Candi Tikus dibuat berteras untuk menahan tanah sekitarnya. Pada dinding bagian bawah terdapat pancuran berjumlah 19 buah. Bangunan induk candi terdiri atas kaki, tubuh, dan atap. Di atas tubuh candi terdapat empat buah menara.

Bangunan Candi Tikus menggambarkan replika gunung mahameru. Gunung mahameru merupakan gunung suci yang dianggap sebagai pusat alam semesta yang mempunyai suatu landasan kosmogoni yaitu kepercayaan harus adanya suatu keserasian antara dunia dunia (mikrokosmos) dan alam semesta (makrokosmos).

Di samping itu, sangat mungkin Candi Tikus merupakan sebuah petirtaan yang disucikan oleh pemeluk Hindu dan Budha. Mengingat bahwa air adalah salah satu unsur alam yang di keramatkan oleh pemeluk Hindu dan Budha.


Candi Bajang Ratu

Candi Bajang Ratu, dikenal juga dengan nama Gapura Bajang Ratu, candi/ gapura ini berfungsi sebagai pintu masuk bagi bangunan suci untuk memperingati wafatnya Jayanegara. Bajang Ratu sendiri memiliki arti Raja yang masih kecil, bajang berarti kecil dalam bahasa jawa. Hal ini merujuk pada Jayanegara yang ketika dinobatkan menjadi raja saat masih remaja.

Sayangnya, karena usianya yang sudah tua candi ini harus ditopang oleh besi untuk menjaga agar bangunan ini tidak runtuh.


Situs Lantai Segi Enam

Situs Lantai segi enam adalah sebuah sisa dari situs rumah tinggal. Keunikan yang kami temukan di situs ini adalah telah digunakannya lantai bersegi enam, yang sering kita kenal dengan nama paving.

Menurut penuturan penjaga, Situs lantai segi enam pertama kali di ekskavasi sekitar akhir tahun 80-an. Penggalian di lakukan oleh tim Arkeologi dari UGM.


Candi Gentong

Bangunan candi yang kami datangi kali ini berbeda sekali dengan beberapa candi yang kami kunjungi sebelumnya. Tak ada bentuk yang menggambarkan bangunan sebuah candi. Ketika kami ke sana, langsung disuguhi dua komplek gundukan tanah yang tertutup atap. Setelah berbincang-bincang dengan mas Ghofur, penjaga Candi Gentong, pertanyaan-pertanyaan dibenak kami akhirnya mendapat jawaban.

Berdasarkan keterangan mas Ghofur, kami mengetahui bahwa candi ini belum selesai di ekskavasi dan untuk jangka waktu yang belum ditentukan ekskavasi dihentikan, karena minimnya data yang diperoleh. Candi ini tertutup atap untuk menghindari kerusakan fisik situs tersebut akibat gejala alam.

Dinamakan Candi Gentong karena dulunya di candi ini ditemukan gentong-gentong pada saat penggalian. Gentong-gentong tersebut ternyata adalah stupika. Hal ini menguatkan keyakinan bahwa Candi Gentong berciri Budha.


Candi Brahu

Candi ini terletak di Desa Bejijong, Trowulan. Bisa jadi Candi Brahu adalah candi Budha. Hal ini di bisa dilihat dari bentuknya yang gembung sebagaimana biasanya candi-candi berciri khas Budha. Di samping itu, puncak menara Candi Brahu diperkirakan adalah stupa karena terdapat sisa hiasan berbentuk lingkaran.

Candi ini berfungsi sebagai tempat penyimpanan abu raja-raja Majapahit, dari Brawijaya I hingga Brawijaya III. Setelah dibakar abu sisa pembakaran di simpan dalam candi tersebut.

Karena hari sudah beranjak sore, akhirnya kami harus menyudahi perjalanan ini. Walaupun sebenarnya masih banyak lokasi yang belum sempat kami kunjungi. Lokasi-lokasi yang tertinggal tersebut seperti Candi Ronggo Lawe, Makam Troloyo, Sumur Upas, dan beberapa lokasi lain. Mungkin lain kali kunjungan kembali bisa di agendakan. Semoga...

Read more
By Eko NP Andi | Tuesday, March 31, 2009
Posted in: | 3 komentar

SHORT STORY COMPETITION 2009


LA Lights Indie Fest mengadakan Short Story Competition 2009. Hadiahnya? Empat cerita terbaik akan difilmkan dalam bentuk film pendek berdurasi maksimal 15 menit dalam program La-Lights Indie Movie 2009.


Nggak cuma itu aja, kamu juga berkesempatan untuk mengikuti program MEET THE EXPERT. Program workshop penulisan script bersama dua script writter ternama di negeri ini:
- Salman Aristo (writer Laskar Pelangi; Ayat-ayat cinta; Jomblo; Alexandria dll…)
- Titien Wattimena (writer Mengejar Matahari; Bukan Bintang Biasa; LOVE; the Butterfly dll…)

Nah, tunggu apa lagi? Ayo tuliskan ceritamu, siapa tahu karya kamu bisa dibikin film. Tapi sebelumnya perhatikan dulu syarat-syaratnya.

Persyaratan pesertanya sebagai berikut:

• Terbuka untuk umum
• Peserta minimal umur 18thn
• Kumpulkan short story maksimal 2 halaman folio, 1,5 spasi
• Lampirkan dan isi formulir yang dapat didownload lewat www.la-lights.com, atau lewat email panitia la.indiemovie@gmail.com

• Kriteria Cerita:

o Bertema dunia anak muda
o Tidak menampilkan tokoh dibawah 18th
o Tidak mengandung unsur SARA dan pornografi
o Cerita harus original bukan jiplakan
o Belum pernah dipublish dalam bentuk apapun

• Pengumpulan karya mulai 1 April 2009
• Deadline pengiriman 1 Juni 2009
• Setiap peserta tidak boleh mengirimkan lebih dari satu cerita
• Empat cerita terbaik akan diumumkan Juli 2009 dalam Indie Movie
• Keputusan juri bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat
• Kirim Ke sekretariat :

SET Film

Jl. Sinabung No.4B, Kebayoran Baru
Jakarta Selatan - 12120
Telp. 021 727 99227/727 99226
HP Panitia 0815 1059 4899
Contact Person: Fira/Anunk

Jangan lupa juga download formulirnya disini

Read more
By Eko NP Andi | Saturday, March 28, 2009
Posted in: | 0 komentar

Dukaku di Situ


Pagi belum genap
Duka menjelang

Tangis tak sempat terisak
Puluhan nyawa menghilang

Dukaku Situ Gintung

Read more
By Eko NP Andi | Monday, March 23, 2009
Posted in: | 0 komentar

[ pintu ]

- poem version -


di pintu itu dulu biasa kuketuk
pintu itu dulu sering kumasuki

dari pintu itu dulu aku biasa keluar masuk
dari pintu itu bermula banyak kisah
di pintu itu hatiku tertambat

tapi itu dulu...

kini, pintu itu tertutup
rapat
rapat sekali

sudah tak bisa lagi kumasuki
sudah tak bisa lagi kuketuk

kini pintu itu tertutup
mungkinkah pintu itu terbuka lagi?

Read more
By Eko NP Andi | Friday, February 20, 2009
Posted in: | 2 komentar

Ponari dan Bisnis Minuman

Sebenarnya boleh dibilang telat dan sudah basi kalau aku nulis ini. Karena fenomena ini sudah menjadi buah bibir sekian minggu yang lalu. Dan sudah banyak diulas oleh media-media tanah air.
Ponari, bocah cilik berusia sepuluh tahun ini beberapa minggu terakhir menjadi fenomena di masyarakat kita. Betapa tidak, berawal dari sambaran petir dan menemukan sebuah batu, si Ponari menahbiskan dirinya sebagai dukun dengan batu “ajaib” tersebut sebagai pusakanya. Karena si batu dipercaya mampu menyembuhkan penyakit apa saja.
Berbekal informasi dari mulut ke mulut, maka berbondong-bondonglah masyarakat menemui Mbah Dukun Ponari. Apalagi jika bukan untuk menyembuhkan penyakit yang dideritanya, dengan perantara air yang telah dicelup batu “ajaib” itu sebelumnya.
Seorang Bapak yang kebetulan sedang nongkrong di pos ronda dosenku pada suatu malam, mengatakan jika salah seorang tetangganya pernah berobat pada Ponari dan penyakitnya dengan ajaibnya sembuh. Yah, walaupun kebenarannya sepenuhnya masih tanda tanya besar bagiku.
Kebesaran nama Ponari ini mau tak mau membuat warga yang kurang mampu merasa mendapat angin segar. Ditambah lagi mahalnya biaya berobat ke dokter atau fasilitas kesehatan lainnya dari pemerintah maupun swasta menjadikan pamor Ponari semakin meluas. Berdesak-desakan menunggu giliran bertatap muka langsung dengan sang dukun pun dilakoni, asal penyakitnya bisa sembuh. Meskipun nyawa taruhannya.
Berbagai cara ditempuh untuk mendapatkan berkah sang dukun. Bahkan ada yang (maaf) meminum air comberan dari rumah Ponari. Aku tak habis pikir sama orang-orang ini. Kenapa sampai sebegitunya? Apa sudah kehilangan nalar?
Kalau dipikir-pikir lagi, ternyata memang begitulah karakter bangsa kita. Ben Anderson pernah mengatakan dalam bukunya tentang karakteristik orang jawa yang suka akan hal-hal yang berbau klenik (Ada lima sebenarnya, kata temanku). Irrasional, lebih tepatnya. Yah, begitulah adanya.
Tapi dibalik itu semua, ternyata kebesaran nama Ponari memberi berkah tersendiri bagi beberapa orang. Diantaranya penjual dadakan, bahkan kisah Ponari pun dibukukan dijual dengan harga 5000 per-buku (mengikuti jejak Ryan kayaknya). Bahkan, kawan-kawan blogger yang tingkat kreativitasnya tinggi pun sudah mendesain produk minuman energi bernama Ponari Sweat. Yang mungkin jika diproduksi secara massal, tak usahlah mengantre, cukup membeli di toko-toko terdekat. Hehehe... Seperti ini nih contohnya...












sumbernya dari sini















sumbernya dari sini





















sumbernya dari sini

Sudah dulu yah, aku capek. Hehehe... Selamat menikmati Ponari Sweat!!!

Read more
By Eko NP Andi | Thursday, February 05, 2009
Posted in: | 5 komentar

Harus Bisa!!!

Judul Buku : Harus Bisa! Seni Memimpin Ala SBY
Sub Judul : Catatan Harian Dr. Dino Patti Djalal
Penulis : Dr. Dino Patti Djalal

Satu lagi buku bagus. Buku itu adalah Harus Bisa! Seni memimpin ala SBY (Sebuah catatan harian sang penulis). Buku yang ditulis oleh Dino Patti Djalal, salah satu staf presiden. Buku ini semacam catatan harian dari penulis, dimana di situ disajikan pengalaman-pengalaman penulis selama mendampingi presiden. Disamping itu, kita juga akan diajak untuk mengenal gaya kepemimpinan seorang SBY, yang selama ini tidak banyak diketahui oleh masyarakat luas. Selama ini yang ada di kepala orang kebanyakan tentang SBY adalah salah satu sikapnya yang peragu. Nah, di buku ini semua yang tidak diketahui orang tentang sosok SBY dikupas habis.
***
Buku ini adalah referensi yang sangat berharga tentang leadership. Salah satu buku yang wajib dibaca untuk para pemimpin dan calon pemimpin, dan pemimpi tentu saja. Seperti kita ketahui, jarang sekali buku-buku tentang leadership yang digambarkan dengan gamblang, tentang bagaimana sebuah keputusan diciptakan, kebanyakan buku sejenis hanya berkutat pada teori semata. Didalam buku ini, sepak terjang SBY dalam menghadapi segala masalah, dan saat-saat pengambilan keputusan seorang presiden disajikan dari balik layar, yang tentunya tidak banyak diketahui oleh public.
Dino Patti Djalal, dengan posisinya yang memungkinkan beliau untuk mengenal sosok SBY dari dekat, menggambarkan dengan jeli pemahamannya tentang sosok SBY. Sebagai seorang penulis, sepemahaman saya, beliau berusaha untuk menuliskannya seobjektif mungkin. Hal itu seperti permintaan pribadi presiden, agar dirinya ditulis dari kacamata yang objektif.
Dalam benak saya, ketika pertama kali membaca, sudah su’udzon terlebih dahulu, ‘jangan-jangan cuma promosi?’, ‘jangan-jangan, jangan-jangan…’. Namun, setelah membuka-buka halaman demi halaman dan setelah mencoba memposisikan diri sebagai pembaca objektif, saya semakin tertarik untuk melanjutkan ke lembar berikutnya. Memang, untuk membaca buku ini kita harus memposisikan diri sebagai pembaca yang objektif. Tanpa prasangka apapun, untuk memahami apa yang sesungguhnya ingin disampaikan oleh penulis.
***
Saya akui, buku ini sangat bagus dan layak untuk dijadikan salah satu koleksi. Hanya yang agak disayangkan, buku ini tidak dijual bebas. Hanya dicetak terbatas, untuk pegawai negeri. Itupun tidak semua pegawai negeri, mungkin hanya pegawai negeri setingkat eselon sekian yang beruntung bisa memilikinya.
Saya saja, bisa membaca buku ini setelah pinjam dari seorang teman yang kebetulan ayahnya bekerja sebagai staf di rektorat kampus tempat saya menimba ilmu. Dan, ini menurut perkataan teman saya itu, tidak semua staf yang mendapatkan buku ini. Jadi, dalam pemikiran singkat saya buku ini memang langka. Akibat dari langkanya buku ini, saya jadi tak bisa melampiaskan kebiasaan saya terhadap buku.
Harusnya, buku sebagus ini dijual secara bebas. Terlalu berharga jika buku ini hanya bisa dinikmati oleh segelintir orang. Sementara negeri ini sedang mengalami krisis kepemimpinan. Jadi, untuk mencetak calon-calon leader diperlukan banyak referensi tentang leadership, terutama pemimpin dari negeri sendiri.

Read more