By Eko NP Andi | Sunday, February 01, 2009
Posted in: | 14 komentar

Satrio Piningit?

Setiap menjelang Pemilu, bisa dipastikan kata yang satu ini pasti akan muncul. Satrio Piningit. Ada saja isu yang diangkat yang berkaitan dengan satrio piningit itu. Entah itu dari partai politik ataupun dari pengamat (macam-macam pengamat, bahkan sampai dukun). Bisa jadi, masing-masing partai menawarkan calonnya sebagai sang satrio piningit. Motivasinya tak lain adalah mengharapkan simpati dari publik.
Bahkan, baru-baru ini sedang ramai dibicarakan tentang ditangkapnya pemrakarsa aliran satrio piningit. Yang memproklamirkan dirinya adalah Tuhan. Ada-ada saja cara orang mencari teman untuk turut menjadi orang frustasi, karena keadaan yang tak kunjung membaik.
Entah siapa pemicu pertama kata satrio piningit, kemungkinan besar sih kata ini berasal dari waktu yang lampau. Saya juga tidak tahu, ini hanya sekedar kata atau ada cerita dibaliknya. Seperti yang lazim terjadi di Jawa, sebuah mitos selalu ada cerita dibaliknya. Mungkin, satrio piningit bercerita tentang kerinduan sebuah masyarakat akan pemimpin yang adil, dan bijaksana, setelah kehidupan yang selama ini mereka jalani tak kunjung membaik karena pemerintahan seorang raja yang semena-mena. Mungkin seperti itu cerita versi saya, pasti banyak yang tidak sepakat ya?
Jika dikembalikan pada masa yang sekarang, satrio piningit selalu dirindukan kehadirannya oleh masyarakat kita. Namun, sosok satrio piningit yang digembar-gemborkan itu tak pernah kunjung datang hingga hari ini. Sebenarnya apa itu satrio piningit? Benarkah dia ada? Jika ada dimana keberadaannya?
Baiklah, jika anda sekalian memaksa. Saya akan coba untuk menjawab sebisanya. Sebatas apa yang saya ketahui dan harap diingat, hal ini adalah pendapat pribadi. Jika tidak setuju ya ndak apa-apa. Toh, ini kan negara demokrasi, yang katanya setiap individu bebas mengutarakan pendapatnya.
Menurut hemat saya, seperti apa yang juga disampaikan oleh Ki Manteb Sudarsono dalam pagelaran wayang semalam, satrio piningit itu tidak berwujud. Bukan sebuah sosok atau figur, tapi lebih pada sebuah sifat atau karakter. Jadi kalau menganggap satrio piningit itu sosok atau figur, dan sedang menunggu kemunculannya, bersiaplah kecewa. Karena dia itu tidak ada.
Sejatinya, satrio piningit itu berada dalam diri masing-masing dari kita. Seperti arti kata piningit itu sendiri, yang tersembunyi. Jadi tidak usah mencari-cari dimana sosok satrio piningit itu berada. Dia tidak kemana-mana, hanya dia belum beranjak dari dasar hati sanubari. Dia menunggu untuk masing-masing pribadi kita membangunkannya.
Kalau pun satrio piningit itu harus diwujudkan, maka kitalah sosoknya. Bukan siapa-siapa. Karena dia selalu melekat dalam diri kita, hanya saja terkadang kita tak tahu atau tak mau tahu.

Read more
By Eko NP Andi | Thursday, January 29, 2009
Posted in: | 0 komentar

Finishing Touch Lemah, Tiga Poin Melayang

Target timnas meraih hasil “minimal” imbang dalam laga melawan Australia semalam tercapai. Pertandingan semalam seharusnya kita bisa membawa pulang tiga poin. Jika melihat serangan yang dilancarkan sebenarnya minimal 2 gol harusnya bersarang di gawang Australia.

Sejak awal aku sudah memperkirakan formasi yang digunakan seperti yang ditampilkan Bendol semalam. Empat bek sejajar, dua gelandang bertahan, seorang playmaker, dua sayap yang berotasi, dan seorang target man. Dalam preview kemarin formasi itu adalah 4-2-3-1. yang cukup mengejutkan adalah tampilnya Talaohu Abdul Musafry sebagai starter menggantikan peran Bambang Pamungkas. Selain itu tak ada perubahan yang berarti.

Dalam pertandingan tersebut, barisan pertahanan Indonesia bermain cukup rapi. Jebakan-jebakan off-side berjalan baik. Komunikasi di lini ini sudah mulai membaik. Peran dua gelandang bertahan yang diemban oleh Ponaryo dan Hariono juga sangat bagus. Kredit poin layak diberikan pada pemain debutan, Hariono, yang berkali-kali berhasil meng-intercept serangan Australia sebelum memasuki jantung pertahanan kita. Pemain yang satu ini tak henti-hentinya berjibaku dengan para pemain Australia.

Peranan pasukan penyerangan juga sebenarnya tak kalah bagusnya, hanya saja seringkali terlambat mengambil keputusan dan komunikasi yang sering terputus. Beberapa kali terjadi miss communication. Entah itu Firman, Boaz, Budi, atau pun Musafry. Akibatnya, pola serangan yang sudah terbangun jadi sia-sia. Boaz Solossa sepertinya masih belum mampu menunjukkan performa terbaiknya, walau beberapa kali akselerasinya menyulitkan pemain bertahan Australia. Dua kali cedera parah masih menjadi trauma bagi pemain masa depan ini.

Memasuki babak kedua, Indonesia bermain lebih bagus menurutku. Indonesia boleh dikata bermain dengan sebagai mana mestinya. Bola-bola pendek, cepat. Tapi permasalahannya ya itu tadi, finishing touch, komunikasi, dan pengambilan keputusan masih mengganjal.

Masuknya Ellie Aiboy, Bambang, dan Erol FX Iba juga tak menyelesaikan masalah ini. Peluang terbaik dimiliki Budi Sudarsono. Hanya saja sundulannya menyambut umpan silang Ellie tak sempurna. Hilang sudah kesempatan membuka skor.

Satu angka yang diraih Indonesia, memang cukup disayangkan. Bermain melawan tim yang tidak dalam kondisi seratus persen fit, kita tak mampu memenangkan pertandingan. Apalagi permainan Indonesia juga cukup bagus. Aku kira semua orang setuju, seharusnya Indonesia bisa meraih tiga poin.

Namun, yang perlu dipikirkan saat ini adalah menjaga konsistensi permainan seperti ini. Dengan 2 poin yang sudah diperoleh, kesempatan menuju putaran final Piala Asia 2011 masih terbuka. Dan, tidak menutup kemungkinan, jika permainan timnas semakin membaik, lolos dari grup neraka ini. Viva Indonesia!!! (DenMasKodox’s)

Read more
By Eko NP Andi | Wednesday, January 28, 2009
Posted in: | 1 komentar

Menunggu Kejutan Indonesia Lagi...

Laga kedua timnas Indonesia di ajang Pra Piala Asia 2011 beberapa jam lagi akan berlangsung. Bertindak sebagai tuan rumah, seharusnya peluang meraih hasil maksimal terbuka lebar. Setelah mampu menahan tuan rumah Oman bermain imbang tanpa gol, motivasi pemain Indonesia sedang bagus. Apalagi tim tamu, Australia, juga tidak akan diperkuat oleh punggawanya yang merumput di Eropa. Australia "hanya" menurunkan tim yang mayoritas pemainnya bermain di liga lokal serta minim pengalaman internasional.
Apalagi menurut berita yang aku baca di Jawa Pos, kemarin pagi, Pim Verbeek (pelatih Australia) kemungkinan besar tidak akan berada di bench tim asuhannya itu. Pelatih asal Belanda tersebut dikenai sanksi oleh AFC, 3 kali larangan mendampingi tim asuhannya. Sanksi itu didapatkannya saat mendampingi Korsel dalam perebutan tempat ketiga Piala Asia 2007 silam.

Menyerang dan Bertahan
Kesempatan untuk meraih poin tetap terbuka bagi timnas. Disiplin adalah kunci utama, jika pasukan merah putih ingin meraih hasil maksimal. Saat menyerang dan bertahan.
Formasi 4-4-2 boleh dikata adalah formasi yang ideal menurutku untuk pertandingan kali ini. Duet Bambang-Boaz layak dicoba, dengan Arif Suyono dan Budi sebagai penopang serangan di sektor sayap. Firman Utina sebagai sang pengatur serangan dibantu Harianto yang di Muscat menunjukkan permainan menawan, untuk meredam serangan. Duet center back Charis Yulianto dan Maman, sepertinya tak tergoyahkan untuk menjaga area sentral pertahanan. Selain itu, 4-2-3-1 bisa dijadikan alternatif, dengan memasang BP sebagai penyerang tunggal. Boaz Solossa dan Budi Sudarsono sebagai penopang serangan lewat sisi.
Mengantisipasi postur pemain-pemain Australia yang rata-rata tinggi besar duet big man Charis-Nova bisa jadi alternatif. Atau menggunakan empat big man sejajar.
Sekali lagi, kedisiplinan adalah harga mati jika ingin hasil terbaik, tiga poin. Serta mengurangi kesalahan sekecil apapun.
Oke, sekian dulu preview-nya.

Read more
By Eko NP Andi | Saturday, January 10, 2009
Posted in: | 1 komentar

Sepotong Kisah dari Stasiun

Cerita ini terjadi di tahun 2004, tentang sebuah perbincangan tak disengaja. Perbincangan yang kemudian membuatku terpana, manakala kuketahui sosok yang kuajak bercengkerama itu berprofesi sebagai pengedar ganja.
Ceritanya, pada hari itu (kalau tidak salah adalah hari minggu) aku sedang menunggu kedatangan seorang teman di Stasiun Kota Malang. Saat itu aku masih belum membawa handphone, jadi kedatangan teman itu di konfirmasikan lewat pesawat telepon yang ada di Indikator. Teman tersebut mengatakan bahwa sejam atau setengah jam lagi akan tiba. Mengingat jadwal kereta api yang tak pernah on-time, aku memutuskan segera saja berangkat setelah menerima telepon darinya.
Berbekal motor pinjaman dari anak-anak indikator, aku bergegas menuju Stasiun. Sampai di stasiun kutanyakan pada salah satu orang yang ada disana, jam berapakah kira-kira temanku itu akan sampai. “Wah sek suwi dek..Sak jaman engkas paling lek gak molor..”, begitu kata bapak yang berdiri di pintu masuk stasiun.
Walah, lama banget nek gitu, pikirku. Ya sudah lah, lebih baik ditunggu di depan saja sambil menikmati rokok dan segelas es degan lumayan juga untuk mengusir jenuh. Kupesan segelas es degan dari seorang bapak yang sedari tadi sudah mangkal di samping gerobak dagangannya itu. Sambil menunggu pesananku yang sedang dibuat, kunyalakan sebatang rokok.
Saat sedang asyik-asyiknya menikmati lamunan aku dikejutkan oleh seseorang yang menyolek tubuhku. Seseorang berbadan tak seberapa besar, dan berusia kira-kira dua puluh limaan itu sudah berhadapan denganku. “Mas, punya korek?”, katanya dengan rokok yang terselip diantara jemari tangannya. Ah, dia pasti tahu aku punya korek karena sedari tadi rokokku masih menyala. “Oh, ada mas...” sambil kusodorkan korek kepadanya. Setelah menerima korek itu, disulutnya 76 yang dibawanya.
Beberapa saat kemudian dia juga memesan segelas es degan. Lalu terjadilah perbincangan kecil diantara kami. Setelah sebelumnya kutanya hal remeh temeh sebagai pengantar berbasa-basi khas wartawan amatir. Aku tahu kalau orang ini hendak ke Blitar, ke kampung halamannya, setelah bertemu dengan seorang temannya yang katanya mahasiswa sebuah perguruan tinggi swasta terkemuka di kota ini, setelah kutanya tentunya.
Pembicaraan yang awalnya menjemukan itu berubah menjadi menarik, setelah yang bersangkutan, sebut saja Agus, bercerita banyak hal tentang dirinya. Agus yang anak Blitar itu, bercerita tentang bisnis yang dilakukan dengan temannya. Aku awalnya nggak ngeh, bisnis apa yang dilakukannya, karena sedari tadi aku hanya berekspresi datar-datar saja, karena ke-tidakngehan-ku. Mataku baru terbelalak saat kutahu ternyata dia sedang menyetok ganja (dia menyebutnya ijo untuk barang dagangannya itu) buat kawannya itu. Jadi ini tho, bisnis mereka itu, kataku dalam hati.
Merasa pembicaraan semakin menarik, aku jadi semakin antusias saja mendengarkan cerita Agus. Kutanyakan banyak hal kepadanya. Tentang darimana dia mendapatkan ganja, berapa kali dia kirim, menggunakan apa, hingga ke berapa harga tiap paket ganja itu. Dari jawaban-jawaban yang diceritakannya, aku baru tahu kalau selama ini dia mendapatkan barang-barang itu dari daerah-daerah di sekitar tapal kuda. Jember, Probolinggo, Lumajang, bahkan sampai Banyuwangi. Dan tiap bulan sekali dia menyetok temannya itu, yang ternyata juga seorang pengedar.
Selama ini, Agus hanya berani menggunakan angkutan umum seperti kereta api untuk membawa barang-barang dagangannya itu. “Lebih aman mas, nggak pernah ada operasi”, katanya. Pernah suatu ketika dua orang temannya yang berprofesi serupa, membawa ganja dalam jumlah besar dari Probolinggo terciduk aparat keamanan gara-gara kena razia ketika hendak memasuki Malang. Setelah itu, Agus yang sebelumnya menggunakan jasa travel tak berani lagi menggunakan angkutan darat selain kereta api. Memang sih, kereta jarang ada razia, selain razia penumpang tanpa tiket yang rutin dilakukan.
Tak terasa, waktu terus berputar. Lewat pengeras suara stasiun, kudengar kereta yang membawa temanku dari Surabaya sesaat lagi akan datang. Si Agus rupanya masih antusias bercerita. Sebelum berpamitan, kudengar dia berkata bahwa sebenarnya dia sudah lelah melakukan kegiatan yang tidak halal itu. Dia ingin berhenti dari dunia itu, setelah dua orang temannya mendekam di tahanan, yang menurutnya peringatan dari Tuhan bagi dirinya untuk berhenti. “Lalu, sampeyan mau kerja apa Mas?” tanyaku. “Yah, kerja apa lah mas...Pokoknya nggak gini. Kemarin sih ditawarin tetangga saya kerja jadi montir di rumah.” Katanya dengan sebuah keyakinan. Keyakinan untuk sebuah perubahan. Keyakinan untuk tak lagi kembali ke dunia hitam itu lagi.
Setelah itu, perbicangan kami selesai dan tak pernah bertemu lagi. Nomor telepon yang ditinggalkannya untukku pun hilang entah kemana, sebelum aku sempat menghubunginya. Entah bagaimana dia sekarang. Sudahkah dia berhenti jadi pengedar ganja? Ah, hanya dia dan Tuhan yang tahu...

Karena sudah lama aku lupa siapa nama Agus yang sebenarnya. Jadi pengen ketemu dia lagi...

Read more
By Eko NP Andi | Thursday, December 04, 2008
Posted in: | 5 komentar

Maryamah Karpov


Setelah sekian lama ditunggu-tunggu, akhirnya Maryamah Karpov, seri pamungkas dari tetralogi Laskar Pelangi terbit juga. Maryamah Karpov turun cetak dengan sub-judul mimpi-mimpi Lintang, yang membuat banyak pembacanya semakin penasaran.

Setelah mendapat kabar bahwa novel ini akan terbit tanggal 28 November, aku sudah tak sabar untuk segera melengkapi koleksi tetralogi itu. Maka, senin (1/12/2008), setelah malam sebelumnya seorang kawan meneleponku dan dengan menyebalkannya bilang jika dia sudah membeli buku itu, kuputuskan ke Toga Mas membeli buku itu. Yah, walupun setelah itu aku harus menanggung akibatnya, dalam 2 minggu ke depan kelaparan terbayang di depan mata. Halah udahlah, kembali ke soal novel tadi saja. Setelah membaca tandas dalam semalam, maka inilah review-nya.

***

Andrea masih setia membagi cerita-ceritanya dalam mozaik sebagaimana biasa. Dalam novel ini setidaknya bisa kubagi dalam tiga bagian. Bagian pertama bercerita tentang masa-masa akhir Ikal di Paris, tentang bagaimana dirinya menaklukkan sang wanita perkasa dalam ujian tesisnya, perjalanan terakhirnya mengunjungi tempat-tempat di Eropa yang berkesan baginya, juga tak lupa pula mampir ke Edensor hingga kembali ke tanah kelahirannya di Belitong.

Bagian kedua buku ini bercerita tentang awal sebuah misi pencarian. Sejak penemuan mayat bertato kupu-kupu oleh orang-orang bersarung, batin Ikal berkecamuk tak karuan. Dalam otaknya tersusun asumsi-asumsi tentang peristiwa itu dengan pemilik kuku terindah di dunia, A Ling. Kalian tahu kenapa. Singkat kata, Ikal berencana membuat sebuah perahu yang akan digunakannya menyusuri lautan hingga ke pulau Batuan, tempat persembunyian para perompak Selat Malaka yang terkenal seantero jagad itu. Dan kalian tahu kawan, para anggota Laskar Pelangi berkumpul membantu Ikal dalam usaha pembuatan perahu itu. Tak ketinggalan juga putra si pria cemara angin, Lintang, turut serta. Hingga akhirnya perahu tersebut dinamakan mimpi-mimpi Lintang, karena perahu ini berhasil diselesaikan lewat sumbangan pemikiran brilian Lintang.

Bagian ketiga adalah pencarian itu sendiri. Akhirnya Ikal berhasil sampai di Pulau Batuan setelah Mahar menyogok Tuk Bayan Tula dengan sebuah televisi portable. Apakah Ikal berhasil menemukan pujaan hatinya itu? Baca bukunya aja deh...

***

Secara keseluruhan buku ini cukup menghibur. Andrea Hirata banyak melucu dalam novel pamungkasnya ini, walau ada juga kisah yang menyedihkan.

Ketika Andrea menceritakan orang-orang Melayu banyak hiburan di sana. Aku yang biasanya tak mudah tertawa oleh lelucon orang Melayu dibuatnya terbahak-bahak. Bagaimana tidak, kegemaran orang Melayu menambahkan nama belakang seseorang terasa ganjil bagiku, bagi kebanyakan orang tentunya. Pemberian nama itu disesuaikan dengan keadaan, peristiwa yang terkenang tentang si orang tersebut. Maka muncullah nama Berahim Harap Tenang, Munawir Berita Buruk, Sema'un Barbara, Eksyen, dan banyak lagi nama aneh yang lain.

Cerita Ikal tentang sang Ayah menyebabkanku terdorong ke dalam pintu masa lalu. Mengingatkan diriku tentang nukilan kisah yang kuhabiskan bersama Ayah. Oke lah, suatu hari nanti akan kuceritakan pada kalian dalam posting tersendiri.

Walau memasang judul Maryamah Karpov, tak banyak cerita yang menyinggungnya. Sang Mak Cik hanya disinggung karena gemar mengajari langkah-langkah sang Grand Master Anatoli Karpov, inilah mengapa menempel nama Karpov di belakang namanya, pada orang yang bermain catur.

Terlepas dari kekurangannya buku ini memang patut dibaca oleh para pecinta Laskar Pelangi. Selamat membaca....

Read more
By Eko NP Andi | Saturday, November 29, 2008
Posted in: | 0 komentar

The Conductors

Sudah pernah nonton film dokumenter The Conductors? Sebenarnya film bikinan bogalakon production ini sudah lama beredar, sekitar pertengahan Juli lalu kalau gak salah, dan sudah kutonton dua bulan lalu. Tadi sore, aku jadi pengen liat lagi.

Secara garis besar film ini bercerita tentang conductor atawa dalam istilah Indonesianya dirigen. Namun, conductor disini bukan sembarang konduktor. Dalam film ini ada Adhie MS, yang kita sama-sama ketahui adalah satu-satunya (menurutku) konduktor terbaik yang di punyai Indonesia dengan Twillite Orchestra-nya. Ada juga AG Sudibyo, beliau adalah pemimpin paduan suara UI, sebuah paduan suara yang sangat besar. Bayangkan bagaimana beliau memimpin paduan suara yang berjumlah ratusan orang itu. Ngeri. Jangan lupa juga, dirigen kebanggaan suporter Aremania Yulie Sumpil juga ambil bagian di film ini.

Awal mula tertarik untuk melihat film ini sebenarnya karena sosok Yulie. Namun, setelah menonton penuh, justru Adhie MS lah yang membuatku terkesan. Tentang idealisme, tentang mimpi dan harapan seorang Adhie MS pada perkembangan musik di tanah air. Kalau ingin tahu sedikit tentang Adhie, baca tulisan di bawah ini:


Sebenarnya musik bisa jauh lebih berperan untuk "menertibkan" suatu society ehm..apa namanya, membawa suatu society kearah yang lebih sehat. Musik di New York, di tokyo itu terbukti menurunkan angka kenakalan remaja. Belum lagi musik buat tanaman, musik buat binatang. Ternyata musik ini bisa bermanfaat sekali buat hal non musikal.

Nah, berkali-kali aku sudah berusaha untuk bertemu para pejabat di berbagai rezim, dari rezimnya Soeharto sampai rezimnya Megawati, sampai sekarang terus terang nggak pernah ada titik terang, dimana fokusnya yaitu kalau aku lihat, simply, pembangunan ekonomi aja, yang paling garis bawah. Seolah-olah kalau kita diskusi soal musik, soal kebudayaan, soal kesenian, kita harus menjadi bangsa yang kaya dulu untuk menikmati seni.

At least, kalau ada satu aja gedung konser di Jakarta mungkin itu akan merubah banyak, akan jadi efek domino, orang akan merasakan "oh, begini ya...", " untuk ini ya di bangun itu..." mungkin akan menular ke kota lain. Satu pun kita nggak ada. Malaysia punya, Singapura punya, Vietnam punya, tetangga kita punya, kita nggak punya. Padahal Mall kita bertebaran, lapangan golf yang mewah bertebaran, memalukan sebenarnya sebagai bangsa. Menyedihkan. Kita mengagung-agungkan pembangunan fisik, pembangunan materi. Sehingga jadi bangsa yang materialistis seperti ini.


Terus, yang menarik lagi adalah sebuah klip yang mempertontonkan pada kita konser yang dilakukan Twillite Orchestra di Kuantan, Pahang, Malaysia. Dimana disitu Twillite melakoni konsernya di sebuah stadion. Sebuah hal yang amat jarang kita temui untuk sebuah pertunjukkan orkestra, show di luar ruang (out door). So pasti butuh perhitungan tingkat tinggi untuk menggelar even seperti ini, sekali lagi ini out door, bagaimana memperhitungkan angin, sound yang di keluarkan, banyak deh.

Nah, bicara Twillite dan konser out door mereka mengingatkan aku pada mimpi besar dengan seorang kawan. Dimana setahun yang lalu tepatnya, kita pernah bermimpi mengadakan acara seperti itu. Tak ingin hanya mimpi, maka kita coba mewujudkan itu. Diskusi dengan kawan-kawan yang sering bergelut dengan entertaintment, cari-cari contact person, browsing info, pokoknya nyari info sebanyak-banyaknya. Tapi, setelah diskusi selama beberapa minggu akhirnya kita harus kecewa. Butuh biaya mahal kawan untuk mengadakan acara semacam ini. Bayangkan saja berapa pesawat yang harus kita sediakan untuk mengangkut personil orkestra dan peralatannya? Latihan? Wuah…, pokoknya high cost lah. Jalan tengah coba dicari, gak dapet, sponsor juga udah pada ngeluarin duitnya buat acara-acara yang udah terjadwal lama. Gagal deh…

Intinya, aku mau bilang aja sih kalau apa yang dilakukan oleh Pahang sebenarnya secara ide gak orisinil banget. Lha setahun lalu aku dan kawanku pernah punya ide seperti itu, hanya saja mereka lebih beruntung. Hiks… Tapi, masih ada beberapa ide sejenis yang akan dieksploitasi suatu saat nanti.

Kembali, ke the Conductors. Terus terang salut banget sama bung Andibachtiar Yusup atau Ucup yang berperan banget dalam pembuatan film ini. Ternyata orang “gila” yang selama ini aku liat di world kick off-nya ANteve punya ide yang gak kalah gilanya.

Oh iya hampir lupa, satu hal lagi yang menarik yaitu intro film ini. Dimana kolaborasi antara tiga konduktor itu menghasilkan sebuah musik yang bagus banget. Bagaimana umpatan khas jawa timuran bisa terdengar lebih enak di telinga ketika dimasukkan sound Twillite Orchestra di situ. Asli gurih. Hehehe… Buat yang seneng musik film dokumenter ini cocok buat referensi. Enjoy this movie…

Sudah ah, capek nulisnya. Ngomongnya juga udah makin gak jelas…




Read more
By Eko NP Andi | Saturday, October 25, 2008
Posted in: | 2 komentar

Kita dan Hujan

Entah sudah berapa ribu kali hujan turun. Namun sampai hari ini, aku masih saja terpesona akan hujan. Sebuah hal aneh memang bagi kebanyakan orang, tapi hal itu tak berlaku bagiku. Dalam tiap butir air yang terkandung di dalamnya, di beberapa butir air itu tersimpan cerita, tersimpan kenangan. Dalam bulir air hujan itu kutitipkan kenangan, sebuah kisah yang kulewatkan pada beberapa masa yang telah berlalu. Kisah yang akan kembali kukenang ketika hujan turun lagi, sampai hujan tak lagi turun untuk membasahi bumi.

Butiran air yang turun kali ini, seolah mengembalikan cerita yang pernah terjadi beberapa masa lalu. Sebuah kisah yang kulewatkan dengan seorang wanita yang tak pernah berhenti untuk kukagumi hingga detik ini. Cerita ini terjadi di suatu hari yang sudah tak kuingat lagi kapan tepatnya. Namun beberapa detilnya masih mampu kuingat.

Pada hari itu, ada sebuah janji dengan seorang dosen yang menjadi salah satu narasumber untuk sebuah peliputan. Satu jam sebelum waktu yang dijanjikan, aku bersiap untuk berangkat. Kucari partner yang akan menemani perjalanan yang akan membosankan jika harus kulewatkan sendiri. Akhirnya kudapatkan wanita itu yang memang menjadi partner dalam peliputanku. Setelah memeriksa semua peralatan dan mengonfirmasi janji dengan sang narasumber, kami pun bersiap menuju lokasi perjanjian di sebuah perguruan tinggi tempat para calon guru menuntut ilmu.

Belum satu langkah, rintik-rintik air jatuh dari langit. Pertanda bahwa air yang lebih besar lagi akan menyusul turun. Sejenak keraguan muncul untuk meneruskan langkah kakiku,namun dia memberikan saran untuk meneruskan perjalanan. Tak baik katanya mencederai perjanjian dengan membatalkan janji. Saat itu juga, semangatku muncul lagi. Akhirnya kami berdua melangkah bersama rintik hujan.

Dalam perjalanan, tak akan menyenangkan jika harus melewati hujan ini dalam diam. Percakapan-percakapan terjadi diantara kami, tak jarang kulontarkan sedikit canda menyisip diantara topik pembicaraan. Bersama jejak kaki yang segera terhapus hujan, semakin kunikmati perjalanan ini. Karena kulewatkan hujan bersama seseorang yang istimewa. Karena, bersama wanita yang tubuhnya mulai basah itu kurasakan nikmatnya rintik hujan. Lebih nikmat daripada yang pernah kurasakan sebelumnya. Tak pernah kulewati hujan seindah hari ini sepanjang hidupku. Mungkin inilah salah satu hujan yang terindah yang kulewatkan bersamanya.

Sepertinya hujan memang ingin menjadi bagian dalam kisah kami. Ketika hujan turun, di sebuah halte saat itu kami sedang berteduh menghindari hujan yang lebat. Waktu itu aku sedang menemaninya menunggu angkutan yang akan membawanya pulang. Sebuah hal yang tak pernah kulakukan sebelumnya. Menemani seorang wanita menunggu angkutan bukan bagian dari kegiatan yang kusukai. Namun kali ini berbeda, dengan latar yang berbeda pula.

Memang hujan waktu itu terdengar seperti kisah yang hanya terjadi dalam cerita. Menunggu hujan reda dan berlindung di bawah halte bersama seorang wanita terasa romantis, seperti kisah yang pernah kutonton di sebuah film. Namun, kali ini kualami cerita yang filmis itu secara nyata. Kulewatkan waktu yang panjang bersamanya di halte itu, sambil sesekali memerhatikan angkutan yang lewat.

Sambil menunggu angkutan, canda tawa dengan segera menyertai percakapan kami. Terlihat sekali dalam pandanganku, bahwa dia menikmati percakapan ini. Hal itu kuartikan secara subyektif sebenarnya, tapi subyektifitasku beralasan. Beberapa kali angkutan berkode yang akan membawanya ke tempat tujuan tak dihiraukan, bahkan ketika kuingatkan pun diacuhkan. Entah topik apa saja yang sudah kami bicarakan, semuanya mengalir bersama derasnya hujan yang kali ini ingin rasanya kuberdoa semoga tak kan segera mereda.

Hujan sepertinya menjadi teman dalam kisahku bersamanya. Bersama hujan dua kali kulewatkan waktu yang berkesan. Bersama bulir air yang turun, tersimpan kisahku bersamanya. Dalam buliran air itulah, sebuah kisah yang filmis pernah kulewati. Kisah yang begitu membekas dalam memori otak dan menyita ruang di hati.

Hujan yang turun hari ini mengungkit kembali kerinduan. Kerinduan akan dirinya, wanita yang pernah menemaniku dan kutemani melewatkan hujan. Hanya kesendirian yang tersisa hari ini. Dalam lamunan, dalam hati yang sendiri ini sebuah pertanyaan menyeruak keluar, ingatkah kau akan hujan yang pernah kita lewati itu?




Read more