By Eko NP Andi | Friday, February 15, 2008
Posted in: | 0 komentar

My Sistas

Project trace saya yang terbaru, dengan object adek sendiri ini saya kerjakan dengan CorelDraw 12.

Read more
By Eko NP Andi | Friday, February 15, 2008
Posted in: | 0 komentar

Iklan Aneh

Beberapa hari ini aku dibuat penasaran sama sebuah spanduk. Emang ada yah, penasaran sama spanduk? Jatuh cinta ma spanduk? Kurang kerjaan amat ya...Tapi asli spanduk yang satu ini bikin penasaran-ran. Aneh bin ajaib. Sayang aku gak ambil fotonya. Apaan sih?
Itu lho, di spanduk itu di tulis Pagelaran Wayang dengan kisah "Tragedi Rama Shinta". Nah, apanya yang aneh? Bukannya biasa aja. Lagian udah biasa kan? Pasti ada yang bertanya seperti itu. Awalnya aku juga kayak gitu. Tapi setelah melakukan pengamatan mendalam (sok pengamat), aku jadi tersenyum-senyum mesum.

Penyebabnya adalah yang punya hajatan. Bukan, ini bukan bupati atau orang kawinan yang ngadain. Tapi sebuah tempat hiburan malam terkemuka di kota ini. Semacam tempat berajep-ajep gitulah.. Aneh kan. Aku jadi ngebayangin, gimana yah jadinya? Gimana modelnya?Kalo wayang yang selama ini identik dengan budaya masyarakat jawa itu, di gelar di sebuah tempat hiburan? Pasti asyik dan yang pasti beda. Apa nanti dalangnya bakal mabuk dulu, baru "mayang" atau

Yang ada di otak ini cuman pertanyaan bagaimana, bagaimana doank. Pengen juga sih ngeliat. Tapi, sebuah benda kecil yang terselip di belakang saku berteriak, "jangan!!!" ato "Pergilah, dan besok kamu bakal mati kelaparan". Halah, pokoknya gak bakalan nonton deh, yang pasti mahal. Tapi, kalo ada yang mo traktir, dengan senang hati aku bakalan nerima tanpa setetespun penyesalah buat ngikut nonton.

Bakalan kayak apa ya?Halah, ngapain juga aku segitu amat...Si Amat aja biasa-biasa aja..Besok aku ambil fotonya deh. Biar semuanya tahu gimana penampakan spanduk itu.

Read more
By Eko NP Andi | Monday, January 28, 2008
Posted in: | 0 komentar

The Smilling General, Akhirnya Mangkat

Setelah sekitar 20 hari dirawat di Rumah Sakit Pusat Pertamina, Soeharto meninggal dalam usia 87 tahun. Kematian beliau ibaratnya hanya menunggu waktu. Dan kemarin pada pukul 13.15 WIB, berita kematian itu mengudara. Semua televisi menyiarkan berita itu, lewat breaking news dan laporan langsung dari lokasi. Setelah itu, sore harinya, televisi mulai menayangkan in memoriamnya.

Kematian “Bapak Pembangunan” itu mendapat banyak simpati dari berbagai pihak. Mulai dari rakyat kecil sampai istana. Presiden Yudhoyono pun menetapkan hari berkabung nasional selama satu minggu, dan pemasangan bendera setengah tiang.

Perlakuan negara pada Soeharto memang istimewa, dan sudah selayaknya dilakukan oleh negara pada mantan presidennya. Sesuatu yang tak diberikan oleh Soeharto pada the founding father, Soekarno. Soekarno menikmati hari-hari terakhir hidupnya dalam kesepian dan meninggal dalam sunyi. Kontras dengan apa yang diterima Soeharto.

Terlepas dari kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat Soeharto, perlakuan negara menurutku sudah pantas dan selayaknya. Ini menunjukkan bahwa negara ini menghormati pahlawannya.

Dengan kematian Soeharto, kini pemerintah tinggal memikirkan bagaimana menyelesaikan kasus-kasus yang diwariskan Soeharto. Memang Soeharto telah mati, tapi kesalahannya di masa lalu tetap harus dibayar. Kematiannya tak serta merta menyelesaikan permasalahan.

Muladi, yang diwawancarai oleh Meutia Hafid menjelaskan bahwa salah satu jalan keluarnya adalah dengan dialog dan rekonsiliasi. Yang pasti apapun caranya, semoga itu dapat menyelesaikan tanggungan Soeharto dan mengembalikan uang rakjat. Seperti juga ungkapan Lestari, mantan tahanan politik berusia 76 tahun yang pernah merasakan kekejaman Orde Baru, bahwa sebagai manusia biasa dirinya telah memaafkan Soeharto, tapi keadilan harus ditegakkan.

Akhirnya, Selamat jalan Jenderal Besar H.M. Soeharto. Semoga arwahnya tenang dan diterima di sisi-Nya. Semoga orang-orang yang ditinggalkan diberi ketabahan. Dan semoga dengan kematiannya, uang rakyat itu benar-benar kembali. Amien..

Read more
By Eko NP Andi | Tuesday, January 15, 2008
Posted in: | 0 komentar

Apa kabar ya si Mbah?

Semua pasti sudah tahu, hampir sepekan ini media massa kita dipenuhi oleh berita seputar Mbah Harto. Tak peduli itu media cetak atau elektronik, semua berlomba-lomba menyajikan berita ekslusif seputar perkembangan kesehatan si Mbah. Ternyata, orang ini masih punya nilai jual. Tak hanya saat berkuasa aja dia memonopoli, saat sakit pun media di monopoli olehnya.

Perkembangan seputar sakitnya si Mbah memenuhi hampir semua kuota media massa. Dari kolom sampai laporan-laporan panjang. Dari breaking news sampai talkshow. Dimana-mana tentang si Mbah.

Banyak kalangan menaruh simpati padanya. Dibeberapa tempat bahkan diadakan upacara mendoakan si Mbah. Dari sekedar yasinan beberapa orang sampai puluhan mungkin pula ratusan.

Jika melihat kondisi terakhirnya tak ada orang yang tega melihatnya. Bagi yang menonton televisi, tentu tahu bagaimana tubuh yang tergolek tak berdaya itu di dorong kesana-kemari. Rasa iba itu pasti muncul.

Tapi, jika melihat sepak terjangnya selama berkuasa rasa iba itu sirna. Bagaimana nasib keluarga korban Tanjung Priok, Keluarga-keluarga eks-tapol dan napol, Keluarga lawan politiknya. Dan segambreng masalah yang lain. Tentu tak mudah melupakan kejadian memilukan yang pernah menimpa mereka. Kehilangan orang-orang tercinta, secara misterius. Atau bagaimana keluarga founding father Sukarno, yang menyaksikan orang yang mereka cintai “dibunuh” oleh Suharto. Tak segampang membalik telapak tangan untuk melupakan kisah atau perlakuan yang mereka alami.

Belum lagi, pernyataan-pernyataan beberapa pihak untuk memaafkan Suharto. Ada yang bilang jasa-jasanya kepada negara sangat banyaklah, rasa sosialnyalah, whatever. Nah, lo... Apakah seseorang dengan catatan-catatan yang penuh noda itu patut dimaafkan? Apakah rasa iba telah mengaburkan ingatan kita?

Saya memang tak merasakan secara langsung penderitaan lawan-lawan politik Si Mbah. Tapi, itu tak membuat harus lupa pada sejarah. Apapun itu, keadilan harus tetap ditegakkan. Tak peduli dia pernah berjasa, kalau terbukti bersalah ya harus di adili.

Akhirnya, jika beberapa kalangan mengharapkan kesembuhan si Mbah saya juga mengharapkan bahwa Mbah dapat beristirahat dengan tenang. Tak usahlah dia memikirkan utang-utangnya, biar keluarga yang melanjutkannya. Membayar keugian kepada negara. Semoga Mbah diampuni dosanya. Dan semoga keadilan masih menjadi harta yang berharga bagi kita semua. Amieen.

Read more
By Eko NP Andi | Sunday, December 09, 2007
Posted in: | 0 komentar

Kalah lagi..., kalah lagi...,

Untuk kesekian kalinya, saya harus bersedih. Timnas Sepakbola Indonesia kalah lagi. Tak berbeda jauh dengan seniornya, timnas U-23 juga tertular penyakit sering kalah. Kapan ya sepakbola kita bisa berprestasi?
Bagi yang menonton pertandingan Indonesia vs Thailand pasti merasakan hal serupa. Bagaimana permainan menyerang "brutal" timnas dikalahkan oleh permainan cantik tim lawan. Thailand yang dalam ball possesion kalah, ternyata bisa memanfaatkan peluang lebih baik. Sementara Indonesia selalu mengalami kebuntuan ketika mendekati gawang. Padahal hanya butuh hasil seri, untuk memuluskan langkah ke semifinal Sea Games, eh ini malah kalah. Problem klasik timnas : koordinasi antar lini lemah, penyelesaian akhir lemah, mental bermain yang jelek, dan kreativitas yang kurang. Kelemahan-kelemahan itulah yang saya lihat ketika menyaksikan pertandingan tersebut. Bagi yang menonton pasti mengerti, bagaimana 2 gol Thailand yang tercipta. Semua berawal dari kelengahan barisan pertahanan kita dalam mengantisipasi serangan-serangan efektif Thailand.
Gol pertama lahir karena kesalahan Purwoko, bagaimana dia salah mengantisipasi pergerakan bola yang akhirnya dimanfaatkan dengan baik oleh Therateep Winothai. Bola akhirnya bersarang dengan mulus ke gawang Dian Agus. Harapan mulai tumbuh manakala Jajang Mulyana berhasil menceploskan bola hasil dari blunder penjaga gawang Thailand. Namun, lagi-lagi kesalahan barisan pertahanan Indonesia harus di bayar mahal. Kesalahan mengantisipasi umpan panjang Thailand, membuat Anon Shanshanoi menggandakan keunggulan Thailand di akhir babak pertama. 2-1.
Empat puluh lima menit kedua, permainan semakin buruk. Saya sampai tak bersemangat menyaksikan pertandingan, namun karena nasionalisme saya yang lebih besar (ceile...) akhirnya mampu menonton sampai akhir. Dan, sampai peluit panjang dibunyikan kedudukan tak berubah. Kita gagal lolos ke Semifinal, karena kalah selisih gol dengan Myanmar yang mampu menundukkan Kamboja dengan skor 6-2.
Sebetulnya bukan masalah kekalahannya yang membuat saya kesal, tapi lebih pada orang-orang di balik layar PSSI. Kenapa mereka tak pernah berkaca pada pengalaman? Kenapa tak pernah ada evaluasi?
Semua berawal dari buruknya pembinaan pemain muda. Pemain-pemain muda jarang dimainkan di tingkatan klub, sehingga pengalaman dan mental bertanding tak terbentuk dengan bagus. Hal ini disebabkan Liga Indonesia di penuhi oleh pemain-pemain asing (yang kemampuannya tidak bagus). Lihat bagaimana Inggris akhirnya merasakan dampak banyaknya legiun asing yang merumput di EPL. Lihat bagaimana Inggris akhinya gagal lolos ke babak final Euro 2008.
Walaupun gak mutu, saya coba kasih beberapa solusi buat PSSI...
1. Batasi Pemain Asing
Tak ayal lagi, banyaknya pemain asing yang merumput di Liga Indonesia jadi salah satu pemicunya. Bayangkan, tiap klub memiliki 5 pemain asing dengan 3/4 orang yang boleh dimainkan. Apalagi posisi mereka bisa dianggap vital dalam sebuah tim. Posisi seperti playmaker, striker rata-rata diambil pemain asing. Posisi striker lebih menakutkan lagi. Hampir semua (walaupun tdk semua, tp tim2 besar pasti mempercayakan posisi tukang gedor ini pada pemain asing) striker adalah striker asing! Inilah salah satu alasan kita tak punya tukang gedor andal. Coba lihat top skor liga Indonesia beberapa tahun terakhir, yang dikuasai oleh nama-nama latin atau negro. Menyedihkan sekali.
Maka, pilihan untuk membatasi jumlah pemain asing yang beredar perlu dipertimbangkan. Italia pernah mengalami hal ini pada akhir tahun 80-an, malah mereka lebih radikal lagi. Tak ada pemain asing yang diperbolehkan merumput di Serie A. Beberapa tahun formula ini di terapkan akhirnya muncullah nama-nama lokal yang berkualitas.
2. Perbaiki Kompetisi yang ada
Sebuah timnas yang tangguh akan terbentuk dari kompetisi yang bagus. Setidaknya itulah yang terlihat dari negara-negara yang mempunyai kompetisi sepakbola yang bagus. Jujur saja, Liga Indonesia menurut saya sangat menyedihkan.
3. Prioritaskan Pembinaan Usia Muda
Pembinaan pemain usia muda dengan jenjang yang jelas adalah sebuah tuntutan.
(to continued.... ngantuk nih...)

Read more
By Eko NP Andi | Tuesday, October 16, 2007
Posted in: | 0 komentar

Don't Know

Apakah idealisme itu? Sampai sekarang aku masih gak terlalu paham sama arti kata itu. Sampai saat ini, detik ini aku masih gak ngeh bener sama kata itu. Ketika kemudian dihubungkan denganku, tambah pusing aja kepalaku.

Bukannya mau sombong atau apa... Banyak kawan menganggapku terlalu idealis. Se-idealis apakah aku? Sumpah aku bingung. Setahuku apa yang aku lakukan hanya menuruti kata hati. Jika menurutnya tak patut tak akan aku lakukan. Hanya itu.

Apakah yang menyebabkan mereka bilang seperti itu? Hanya mereka yang tahu jawabannya. Dan yang pasti, aku enjoy dengan apa yang aku lakukan.

Btw, mungkin tulisan ini hanya awal untuk kembali rajin menulis. Setelah lama tak menulis, otak ini rasanya tumpul. Atau memang sudah tumpul dari sononya ya.hehe.... Beneran, lama banget aku gak nulis. Jangankan buat blog ini, buat catatan kuliah aja aku gak pernah. Padahal dulu, walaupun gak sering-sering amat, tulisan-tulisanku pernah menghiasi dinding fakultas, halaman buletin. Yah, semoga tulisan ini adalah awal.

Oya lupa, selamat idul fitri ya... Mohon maaf kalau ada salah-salah kata. Dan, berhubung kita sudah kembali fitrah (?), tampilan blog inipun juga baru.

Read more
By Eko NP Andi | Sunday, February 04, 2007
Posted in: | 0 komentar

Ingkar

Lama gak posting. Well, lagi males n banyak kerjaan.
Akhir-akhir ini banyak banget orang yang aku kecewain. Entah kenapa , aku akhir-akhir ini sering banget ingkar janji. Sesuatu yang dulu paling aku benci. Memberikan harapan, dan kita mengingkari sesuatu yang telah dipercayakan mereka. Aku gak akan menyalahkan mereka yang aku ingkari, jika kepercayaan terhadapku akan pudar. Sebuah konsekuensi ketika kita berjanji, berarti kita telah mempertaruhkan reputasi dan kepercayaan kita.
Buat, temen2 yang udah aku ingkari aku minta maaf. Aku tahu itu gak bisa memperbaiki kesalahanku, tapi beri sedikit kesempatan buat aku untuk berubah. Berbenah, dari semua kesalahan-kesalahan itu.
Jujur, aku tak tahu ada apa dengan diriku. Aku berjanji hanya untuk membebaskan aku dari semua dampak yang akan terjadi dari janji itu.
Well, apapun itu sekarang saatnya berubah dan memperbaiki kesalahan-kesalahan kita.

Read more