By Eko NP Andi | Monday, July 17, 2006
Posted in: | 0 komentar

Sulitnya Memotret Busung Lapar

Oleh : Sri Palupi

Simaklah potret anak busung lapar di bawah ini. Sebut saja namanya Silvana. Umurnya belum mencapai tiga tahun. Kesan sekilas, wajah anak itu menghindari sorot kamera. Beberapa kali saya memotret anak busung lapar, hasilnya tidak jauh beda. Tak satupun dari anak-anak itu yang wajahnya menghadap kamera. Mengapa bisa demikian? Apakah anak-anak itu takut pada sorot kamera? Ataukah mereka malu? Atau barangkali anda menduga mereka terganggu dengan kilatan blitz yang menyilaukan itu? Sama sekali tidak!! Masalahnya bukan pada diri anak-anak itu, tetapi pada pemegang kamera. Bukan anak-anak itu yang takut pada kamera, tapi pemegang kameralah yang tak punya keberanian menatap wajah anak-anak itu.


Bayangkan seandainya andalah pemegang kamera itu. Dengan kamera di tangan anda, rasanya siapapun siap anda bidik. Tidak demikian yang terjadi kalau saja anda menatap wajah anak-anak busung lapar. Barangkali apa yang anda alami tidak berbeda jauh dengan pengalaman saya memotret anak-anak itu. Ketika mata kamera saya mengarah ke wajah anak-anak itu, sebilah pisau tajam serasa melesat dari sorot mata mereka: “Mengapa saya?” “Mengapa kau biarkan saya seperti ini?” Sebagai orang dewasa, saya tak siap menghadapi gugatan setajam itu. Karenanya saya tak pernah bisa bertatap mata dengan anak-anak itu lewat kamera saya. Saya memotret anak-anak itu tanpa menatap wajahnya. Dengan cara seperti itu, setidaknya saya masih bisa memotret tubuh mereka tanpa harus menghadapi sorot mata mereka.
Jangankan menatap sorot mata. Melihat sosok tubuh belia yang renta itu saja rasanya butuh keberanian ganda. Anak-anak busung lapar itu hadir dengan wajah gelisah dan rewel. Mereka lapar, tapi tubuhnya tak kuasa menyerap makanan biasa. Setiap suap yang disodorkan secara paksa pada mulutnya, ia muntahkan kembali. Yang bisa ia lakukan hanyalah menangis dan menangis. Tak seorangpun tahu apa yang dirasakannya. Namun dari wajahnya kita bisa membaca siratan rasa sakit luar biasa. Lapar dan sakit membuat anak-anak itu menangis dan terus menangis. Lapar telah merampas, bukan saja bobot tubuh anak-anak itu, tetapi juga umur mereka. Simaklah sekali lagi tubuh Silvana. Siapa menyangka ia belum tiga tahun. Meski belum tiga tahun umurnya, tubuh itu telah menyusut dan mengemban kerentaan seorang nenek tua yang kenyang makan asam garam dunia. Tragis.
Sebenarnya baru enam hari aku mengenal Silvana. Ia kutemui dalam perjalanan ke Sumba Barat pada September 2005 untuk menjajagi masalah busung lapar di daerah itu. Saat kutemui ia terbaring lemah di satu bangsal rumah sakit di daerah Weteebula, Sumba Barat, NTT. Aku tinggal di salah satu kamar di rumah sakit itu, persis di belakang bangsal anak, tempat Silvana dirawat akibat marasmus. Dalam enam hari aku tinggal di rumah sakit itu, setidaknya dua kali sehari aku memandang wajah anak itu dan menyaksikan tubuhnya lunglai kelelahan. Dua kali sehari pula setidaknya aku melihatnya menangis luar biasa. Kusebut luar biasa, karena yang terjadi sebenarnya bukanlah tangisan, tetapi jeritan kencang.

Tataplah sekali lagi wajah anak itu. Bukankah otot muka dan lehernya menegang dan membesar layaknya orang berteriak atau menjerit? Meski menangis dan terus menangis, tak sebutir air mata pun meluncur dari pelupuk matanya. Meski menjerit lagi dan lagi, ruangan tempat ia dibaringkan tetaplah sunyi. Padahal dari ruang lain orang bisa dengar suara tangis anak-anak susul menyusul beradu keras. Sementara tak seorangpun mendengar tangis lirih Silvana, betapapun ia sudah sudah menjerit. Ada yang salah dengan pita suaranya. Tampaknya busung lapar tak hanya menggerogoti tubuh dan otak Silvana, tetapi juga memakan air mata dan rintih tangisnya. Anehnya para pengunjung di rumah sakit itu terusik, bukan oleh suara keras anak-anak di bangsal sebelah tapi oleh teriakan sunyi gadis cilik yang tengah didera kesakitan akibat busung lapar. Para pengunjung turut bersimpati atas derita Silvana, namun tak satupun dari mereka yang kuasa mendekat. Apalagi menyentuhnya. “Tak tahan melihatnya”, komentar mereka. Kalau melihat dari dekat saja sudah tidak tahan, bisa anda bayangkan keberanian macam apa yang dibutuhkan untuk membidik anak busung lapar dengan wajah menghadap kamera? Terlebih bagi orang-orang macam aku ini, yang tak biasa dengan kamera. Meskipun setiap hari aku menengok Silvana, namun keberanian untuk memotretnya baru muncul di menit terakhir menjelang kepulanganku ke Jakarta. Potret itu pun terasa sekenanya.

Sembilan bulan berlalu setelah aku memotret Silvana. Kini satu angan-angan mengalir dari ruang batinku. Andai busung lapar tidak menelan habis air mata, rintihan dan jeritan anak-anak itu, tentulah jerit tangis seorang anak marasmus macam Silvana sudah cukup menggerakkan siapa pun untuk melakukan apa pun demi menghindarkan setiap anak dari ancaman busung lapar. Sayang, yang terjadi tidaklah demikian. Derita jutaan anak busung lapar di berbagai pelosok negeri ini masih dianggap sepi. Sebab tangis mereka tanpa air mata dan jeritan mereka tanpa suara.

Seandainya saja saya punya keberanian lebih, akan saya hadirkan setidaknya dua sorot mata Silvana lewat bidikan kamera saya. Siapa tahu sorot mata itu masih bisa menggerakkan siapa saja untuk melakukan apa saja demi anak-anak itu. Siapa tahu pula ada kamera-kamera lain yang juga tergerak untuk menghadirkan sejuta sorot mata anak busung lapar di sejuta tempat yang lain. Barangkali dengan hadirnya jutaan sorot mata anak-anak busung lapar yang dari tahun ke tahun terus bertambah itu, membuat bangsa ini dapat menyikapi masalah busung lapar sebagai tragedi yang sepantasnya ditangani secara serius. Penanganan serius hanya bisa dibuktikan dengan dijalankannya pendekatan yang lebih menyentuh akar persoalan. Selama ini penanganan masalah busung lapar cenderung dijalankan dengan pendekatan proyek, bersifat emergency dan tidak mengatasi masalah. Terbukti, angka penderita busung lapar di NTT, misalnya, sampai sekarang terus bertambah meski milyaran rupiah sudah dikucurkan. Sayangnya, saya hanyalah seorang pengecut. Menghadirkan dua sorot mata saja saya tak mampu.

* Penulis adalah Ketua Institute for Ecosoc Rights, peserta program pasca sarjana STF Driyarkara.
** Foto: Sri Palupi, September 2005
*** Dari indoprogress.blogspot.com

Read more
By Eko NP Andi | Monday, July 17, 2006
Posted in: | 0 komentar

Sakit 1/2 Jiwa


Penulis: Endang Rukmana
Jumlah halaman: 274 hlm
Cetakan: 1
Tahun terbit: 2006
Penerbit: GagasMedia
ISBN: 979-780-031-8





Jika suatu hari di jalan kota atau pelosok desa elo-elo pada ketemu seorang remaja pake jaket buluk, T-Shirt putih yang udah lecek, atau kemeja warna abu-abu taik kucing, jeans rombeng yang nyaris jamuran, jas hujan warna ijo taik kuda, sepatu TNI warna item, menyandang blue-night ransel, dan berkepala botak! Panggil aja dia: “Hei, Bob!” Maka remaja bandel itu akan menoleh, tersenyum, dan…, PLTAKK!!!!!—menjitak kepala lo dengan sadisnya (bukan menjabat tangan lo dengan eratnya), seraya berkata: “Aduh Bro, apa kabar, ke mana aja lo nggak keliatan? Ditelen Satpam Ancol ye?!”…..“Elo tuh sakit ye!”“Sakit apaan, Mon?”“SAKIT JIWA, tau!”“Kayaknya sih iya, tapi cuma setengah sih!”“Wah, bener-bener sakit nih orang! Nggak ngerti gue Bob!”“Iya Mon, gue sakit jiwa, tapi cuma setengah!”“Sakit 1/2; jiwa, gitu? Mana ada, woy!”…..Bermula dari rasa penasarannya pada pesan gaib dari Si Kakek Bijak, Bobi memutuskan melakukan perjalanan ke tanah Baduy untuk menemukan kubur ari-arinya. Perjalanan ini adalah sebuah proses pencarian jati diri. Ari-ari Bobi yang dikuburkan di Baduy, bagi Bobi adalah bagian darinya yang tercecer; setengah jiwanya yang belum ia temukan.

Bobi merasa ada panggilan batin. Ia harus menemukan kubur ari-arinya itu, seperti seorang bajak laut yang bersikeras menemukan harta karun. Tetapi apa yg dicari Bobi bukan sembarang harta karun. Harta karun berwujud ari-ari yang sudah lumat ditelan bumi Sasaka Domas itu, semacam harta karun jiwa (soul treasure) yang akan membawa padanya sebuah jejak dari masa lampau.

Namun, pada saat yang sama, Bobi dihadapkan pada pertanyaan Monda, gebetannya: “Apa sih yang LEBIH BERARTI dari GUE? Harta karun Fir’aun? Berlian peninggalan Cleopatra? Harta rampasan perang Napoleon?!”

Dalam perjalanannya ini, yang seolah tak lebih dari gairah berlebih seorang remaja eksentrik, Bobi bersama tokoh-tokoh lainnya mengalami berbagai peristiwa seru, cinta lokasi, serta begitu banyak kekonyolan yang akan mengocok perut pembaca.
Lantas, apakah perjalanan Bobi memang bermakna sebagai pencarian setengah jiwanya (terapi sakit ½ jiwanya!). Atau seperti kata Monda: “A HALF OF YOUR FOOLISHNESS, Bob!”*
*) Resensi oleh penulis via e-mail (so, gak promosi lho ?)
Well, membaca novel ini serasa jadi orang tolol. Megang buku, sambil ketawa2 sendiri. Asli nih novel kocak abis. Selain itu qt jg jadi tau budaya yang ada di tanah Sunda, en Badui. Nilai plus lagi perbendaharaan bahasa sunda gw nambah...! gratis lagi, gak pake kursus2an.

Read more
By Eko NP Andi | Saturday, July 01, 2006
Posted in: | 1 komentar

Latian lagiiiii..........

Selamat bwt Mother Hope !

Setelah beberapa minggu vakum dari bermusik, karena kesibukan masing-masing personil (sok sibuk banget sih! hehe....), akhirnya qta bisa ngejam bareng lagi. Gatel banget tangan ini, udah selama vakum itu gak nggebuk drum set. Yach, walopun telat. :-p
Oke, kapan lagu keduanya kelar ?

Harapan :
Rekaman, manggung (kapan?), yup harapannya sie bisa besar lah pokoke en Mother Hope punya jam terbang, gak cuman di Studio adja. tapi gak jadi cari drummer baru kan...? (memelas) hehehe....








Read more
By Eko NP Andi | Thursday, June 29, 2006
Posted in: | 1 komentar

Dan Ketika...

Dan ketika...
Semua yang kau lakukan
Semua yang kau berikan
Membuat aku kagum

Dan ketika…
Apa yang kau beri
Apa yang kau lakukan
Membuat aku tegar

Kini…
Semua yang kau lakukan
Semua yang kau beri
Membuat aku serba salah
Bingung

Kini…
Salahkah Jika aku ragu ?

Ragu untuk menentukan pilihanku.

Read more
By Eko NP Andi | Thursday, June 29, 2006
Posted in: | 0 komentar

Ketika Si Keledai Berteriak

Malam itu, di sebuah rumah. Di ruang belakang dari rumahnya, di depan kotak berwarna yang mengeluarkan bunyi serta gambar yang mereka sebut televisi. Terjadi percakapan antara suami dengan istrinya. Percakapan yang wajar antara keduanya. Topik malam itu tak jauh dari anak-anak mereka. Kali ini giliran si sulung yang jadi topik diskusi malam itu. Si sulung yang berada di ruang tengah tak sengaja mendengar percakapan mereka, memperhatikan dengan seksama percakapan itu. Buku yang ada di tangannya sudah tak menarik lagi baginya. Percakapan orang tuanya lebih menarik. Didengarkannya dengan seksama, sambil tetap membaca.
Betapa terkejutnya si sulung ketika dua orang yang diidolakannya itu mengkhawatirkan dirinya. Hal yang wajar terjadi pada orang tua pada anaknya, begitu pikir si sulung. Mereka kecewa dengan buah hatinya. Bagaimana “harapan” bagi mereka itu ternyata tak sesuai dengan harapan. Buah hatinya telah berubah. Emosi sang buah hati labil-mudah marah, terlalu angkuh pada orang sekitarnya, selalu membantah orangtuanya. Sahut menyahut pasangan suami istri itu, saling menambahkan argumennya tentang sulung. Sang suami kemudian menyalahkan istrinya yang terlalu memanjakan sulung, tapi yang dituduh berapologi. “kalau tidak dituruti nanti semakin berbuat yang nggak-nggak.” Jawabnya datar. Ada rasa sayang dari jawabannya. Perasaan seorang ibu pada anaknya.
Si sulung yang sedari tadi mendengarkan, tersudut. Perasaannya teriris, pedih. Orang yang dihormatinya kecewa terhadapnya. Tapi dia mengamini kata-kata mereka. Benar. Tapi jauh di lubuk hatinya ada yang mereka tak mengerti tentangnya. Sulung mencoba berargumen dengan dirinya sendiri. Dia menjadi seperti yang dibicarakan kedua orang tuanya juga karena mereka, selain juga orang-orang di sekitarnya.
Ingatan si sulung melayang. Teringat ke masa kecilnya. Bagaimana dia di”sisihkan” oleh saudaranya, tak hanya satu tentunya. Bagaimana dia harus jadi keledai, yang (harus) rela digoblok-goblokkan di depan lingkungan keluarga. Bagaimana dia harus jadi saksi kelemahannya. Terurai air matanya mengingat hal itu. Luka lama yang selalu coba dia kubur rapat menyembul kembali. Kemarahan akhirnya menghapus air matanya. Kemarahan pada saudara dari ibunya yang selalu menganggapnya tak pernah ada, walaupun nyatanya dia berada di lingkungan mereka. Sulung ingin menuntut keadilan. Sebagai manusia dia juga berhak mendapatkan perhatian yang sama dengan yang lainnya. Mendapatkan apa yang lainnya dapatkan. Sebagai manusia dia juga ingin dipuji, dihargai, tak selalu dicaci.
Kemarahan pada merekalah yang membuatnya selalu haus akan pengakuan. Semua yang dilakukannya hanya untuk itu. Tak lebih. Semua tindakannya, tak lazim bagi saudara seumurannya. Ya, dia lakukan itu untuk diakui. Dia teringat akan apa yang pernah dibacanya bahwa manusia adalah sosok yang selalu ingin diakui oleh lingkungannya. Bergaul adalah salah satu caranya. Begitu menurut yang dia baca. Hanya untuk mendapat pengakuan dia rela melakukan apa yang tak pernah dilakukannya. Termasuk berorganisasi. Dia sadar jika dirinya terlalu pemalu, terlalu pendiam, tapi menghanyutkan maka dia butuh sebuah media untuk menyalurkannya.
Memasuki masa perkuliahan aktivitas di kemahasiswaan tak ia lewatkan. Proses pencarian jati diri dimulai, begitu katanya. Keyakinan adalah dirinya. Dia yakin inilah cara untuk bisa diakui, terutama oleh orang-orang yang telah membuat luka baginya. Dia ingin membuktikan pada mereka bahwa “ini lho orang yang dulu kalian pandang sebelah mata”. Membuktikan bahwa mereka salah. Titik. Baginya tak ada kebanggaan lain selain itu.
Sulung berhenti untuk sejenak. Lelah mencaci orang-orang brengsek itu, begitu katanya. Dia hanya berharap mereka bisa memandangnya. Dia selalu yakin bahwa dia bisa. Optimis, kerja keras, selalu terbuka pada hal baru, selalu tertantang adalah sifat si sulung. Jika terbentuk kesan angkuh, sombong itu adalah pemicu lahirnya sifat-sifat itu dan percayalah itu hanya penampakan luarnya.
Sulung kemudian berbisik pada hatinya. Aku mohon maaf pada kedua orang tuaku. Aku berjanji akan berubah. Menjadi anak yang berbakti kepada orang tua. Dalam hati dia berharap tak akan mengecewakan orang tuanya. Dan dia juga ingin agar orang tuanya mengerti dirinya. Bahwa apa yang menurut mereka (orang tuanya) mengecewakan adalah jalan yang telah dia tempuh. Dan dia yakin tak pernah salah memilih, hanya mereka belum mengerti apa yang dia yakini. Sulung menginginkan orang tuanya untuk membebaskan apa yang di yakini benar, karena toh senakal-nakalnya sulung tak akan pernah berani melakukan yang melanggar norma.
Untuk ibunya sulung meminta maaf tiga kali, dan sekali untuk ayahnya. Karena begitulah rasulullah pernah bersabda. Terakhir “biarkan aku bebas menentukan pilihanku sendiri, biarkan aku berlari mengejar impianku”. Begitu yang diinginkan si sulung pada orang tuanya. Ia teringat kata-kata dari seorang Kahlil Gibran “kita bisa bebas tanpa kebesaran, tapi tak bisa besar tanpa kebebasan”.

Malang, 28 Juni 2006
01.53 WIB

Read more
By Eko NP Andi | Saturday, June 24, 2006
Posted in: | 0 komentar

Refleksi

Ketika semuanya tak sesuai dengan apa yang kita ucapkan. Jangan pernah menyalahkan jika kemudian banyak orang memandang sinis. Kepercayaan mereka terhadap kita akan menurun, bahkan hilang. Jangan pernah protes. Sebab itulah kenyataan dari apa yang telah kita perbuat.

Read more
By Eko NP Andi | Thursday, June 22, 2006
Posted in: | 0 komentar

Jogja, Piye Kabare Dab...!

Sepuntenipun ingkang kathah anggenipun telat ngucapaken Turut Berbela Sungkawa kagem para korban gempa dek tanggal 27 Mei kepungkur. Mugi dipun paringi ketabahan dumateng para warga Jogja.
Oh, inggih kagem Mbah Dawami kulo ngaturaken mugi dipun paringi kekuatan ngadepi musibah meniko. Emut kaleyan omonganipun Bapak dumateng kulo "Allah mboten maringi cobaan ingkang mboten saged dipun adepi kagem umate".
Musibah meniko namung sentilan sithik saking ingkang mahakuasa, mugi dipun paringi kesabaran ngadepi musibah meniko lan kaliyan musibah meniko monggo kita sareng2 ningkataken iman kita dumateng ingkang nggadahi urip lan waras.
Semanten kemawon saking kulo. Ayo bangkit Jogja!

Read more